Koresponden Press TV Ditembak Drone Israel saat Meliput di Lebanon Selatan

17 June 2026 14:19

Seorang koresponden media Press TV, Hadi Hoteit, menjadi korban serangan drone militer Zionis Israel saat sedang melakukan peliputan di wilayah Lebanon Selatan pada Senin, 15 Juni 2026. Peristiwa ini menambah daftar panjang jurnalis yang menjadi target serangan di tengah konflik yang terus memanas di wilayah tersebut.

Serangan drone tersebut secara spesifik menargetkan Hadi Hoteit saat ia berada di Kota Kfar Tebnit, Lebanon Selatan. Padahal, saat kejadian berlangsung, Hoteit telah mengikuti protokol keselamatan jurnalis dengan mengenakan rompi pers dan tanda pengenal yang terlihat jelas.

Akibat hantaman drone tersebut, Hoteit mengalami luka serius akibat serpihan bom (shrapnel) yang mengenai dada bagian kanan dan kedua kakinya. Pasca kejadian, ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Al-Najdeh Al-Chaabiya di Nabatieh untuk menjalani prosedur operasi darurat.
 

Baca juga: Netanyahu Kecewa AS dan Iran Bakal Berdamai

Peristiwa tragis ini terjadi hanya berselang satu hari setelah Iran dan Amerika Serikat merampungkan nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri agresi militer di berbagai lini, termasuk di Lebanon. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pasukan Israel tetap melanjutkan gempuran masif di wilayah Lebanon Selatan.

Pada hari yang sama, serangan drone Israel juga dilaporkan menghantam sebuah mobil di bundaran jalan wilayah Kfar Tebnit yang membunuh satu warga. Hal ini  kembali menunjukkan intensitas serangan udara di kawasan tersebut. 

Pesan Terakhir Sebelum Serangan 

Beberapa saat sebelum serangan terjadi, Hadi Hoteit sempat mengunggah sebuah pesan melalui akun X miliknya, @HaditHtt. Dalam unggahan tersebut, ia menyampaikan kembalinya ia ke wilayah kelahirannya dengan harapan akan adanya perdamaian.

"Kami sudah kembali ke Lebanon Selatan dan semoga gencatan senjata kali ini akan berbeda. Ini adalah pemahaman saya mengenai situasi saat ini serta skenario-skenario yang mungkin terjadi," tulis Hoteit dalam pesan tersebut.

Pihak-pihak terkait menilai bahwa penargetan terhadap awak media ini merupakan upaya untuk menghambat pelaporan fakta-fakta kejahatan perang yang terjadi di wilayah konflik.

(Anggie Meidyana)