5 February 2026 19:44
Jakarta: Dokumen Epstein Files kembali menjadi sorotan publik global setelah Kementerian Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan arsip terkait mendiang Jeffrey Epstein pada akhir Januari 2026. Dalam ribuan halaman dokumen tersebut, ditemukan sejumlah nama tokoh asal Indonesia yang disinggung dalam berbagai konteks administratif maupun pemberitaan.
Berbeda dengan polemik yang menyeret nama besar di Amerika Serikat, penyebutan figur Indonesia dalam berkas ini memiliki latar belakang yang beragam dan tidak serta-merta mengindikasikan keterlibatan pidana. Mayoritas dokumen yang memuat nama tokoh Indonesia hanyalah berupa kliping berita, korespondensi institusi, atau catatan transaksi bisnis yang kebetulan tersimpan dalam arsip penyidikan.
Salah satu nama yang muncul dalam dokumen FBI berlabel unclassified adalah pengusaha Hary Tanoesoedibjo terkait laporan bertanggal Oktober 2020. Laporan tersebut menyinggung keterlibatan Hary dalam pengembangan hotel bermerek Trump serta pembelian properti di Beverly Hills, tanpa ada kaitan langsung dengan aktivitas ilegal Epstein.
Nama mendiang pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, juga tercantum dalam dokumen yang membahas transaksi properti mewah Donald Trump pada tahun 2009 silam. Dokumen itu mencatat penjualan rumah seharga US$ 9,5 juta kepada entitas yang terhubung dengan keluarga Widjaja, yang murni merupakan catatan bisnis properti.
Nama Presiden Joko Widodo turut ditemukan dalam tumpukan dokumen tersebut, namun sifatnya hanya sebatas subjek dalam kliping berita dan laporan situasi politik Indonesia. Tidak ditemukan bukti adanya komunikasi, interaksi, maupun hubungan personal apa pun antara Presiden Jokowi dengan Jeffrey Epstein dalam arsip tersebut.
Menteri Keuangan Sri Mulyani juga disebut dalam sebuah arsip internal World Bank Group yang bertanggal 18 Juni 2014 saat ia menjabat sebagai Managing Director. Dokumen itu merupakan materi komunikasi internal mengenai peluncuran unit strategis pemantauan kinerja pembangunan dan sama sekali tidak berhubungan dengan jaringan kejahatan Epstein.
Nama Presiden kedua RI, Soeharto, muncul secara tidak langsung dalam sebuah dokumen yang memuat proposal penulisan buku sejarah yang diajukan oleh Gregory Brown kepada Epstein. Penyebutan ini murni menempatkan Soeharto sebagai subjek kajian literatur dan sejarah politik, bukan sebagai rekan atau kenalan pribadi.
Selain tokoh publik, terdapat nama Kafrawi Yuliantono yang digambarkan sebagai seorang hotelier yang berupaya menjalin kerja sama profesional dengan jaringan Epstein. Berkas terkait Kafrawi yang ditemukan meliputi curriculum vitae dan surat lamaran kerja, yang menunjukkan upaya hubungan profesional semata.
Rilis dokumen ini menegaskan bahwa kemunculan nama seseorang dalam Epstein Files tidak otomatis membuktikan keterlibatan mereka dalam skandal kejahatan seksual yang dilakukan Epstein. Publik diimbau untuk membaca konteks dokumen secara utuh agar tidak termakan narasi yang menyesatkan mengenai keterkaitan tokoh-tokoh nasional tersebut.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Daffa Yazid Fadhlan)