Saling Gertak dengan AS Memanas, Iran Gandeng Rusia Latihan Perang di Selat Hormuz

22 February 2026 03:18

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru yang diwarnai dengan aksi saling gertak dan pamer kekuatan militer. Di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan nuklir, Iran merespons dengan menggelar latihan perang besar-besaran bersama Angkatan Laut Rusia di kawasan Laut Oman.

Latihan militer yang dimulai sejak Rabu ini melibatkan manuver kapal perang dari kedua negara, operasi helikopter, hingga penerjunan personel ke atas kapal perang. Laksamana Muda Hassan Maghsoudlou menyatakan bahwa latihan ini dibagi menjadi tiga fase, mencakup perencanaan hingga simulasi perang gabungan yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Angkatan Udara Iran dan Angkatan Laut Rusia.

Wilayah latihan mencakup area daratan, pantai, hingga pulau-pulau di Teluk Persia, khususnya di Provinsi Hormozgan. Markas utama Angkatan Laut Iran di Bandar Abbas juga menjadi titik sentral, di mana kapal-kapal jenis korvet milik Rusia turut berlabuh dan bergabung dalam latihan yang juga melibatkan unsur dari militer Tiongkok.

Di pihak lain, Presiden Donald Trump terus meningkatkan tekanan diplomatik dan militer. Trump memberikan tenggat waktu 10 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan baru terkait nuklir, dengan peringatan bahwa 'hal-hal buruk' akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.

Sebagai bentuk tekanan nyata, AS telah mengirimkan kapal induk USS Gerald Ford ke perairan Timur Tengah. Trump menuntut Iran untuk menutup seluruh instalasi nuklirnya dan menyerahkan bukti-bukti aktivitas nuklir masa lalu kepada pihak internasional.
 

Baca juga: Inggris Tolak Izinkan AS Gunakan Pangkalannya untuk Serang Iran

Pengamat hubungan internasional, Teuku Rezsyah, menilai bahwa latihan perang antara Iran dan Rusia ini kemungkinan besar merupakan sebuah kamuflase untuk menutupi kegiatan strategis lain yang lebih terperinci dan tersembunyi. Menurutnya, kedua belah pihak saat ini sedang berada dalam posisi 'mirror image' atau saling membaca pergerakan lawan melalui pengamatan intelijen dan sekutu masing-masing.

Rezsyah juga menyoroti kemampuan militer Iran yang tidak bisa diremehkan. Ia menyebut Iran memiliki rudal presisi tinggi yang mampu mengancam keberadaan kapal induk AS. 

"Kalau kita pelajari bagaimana serangan yang Iran lakukan terhadap Israel tahun lalu, dimana dalam perang 12 hari itu, kita melihat presisi peluru kendali Iran luar biasa. Maka tidak mustahil Iran sudah benar-benar siap untuk menyerang kapal induk Amerika Serikat tersebut," ujarnya.

Bagi Teheran, mempertahankan program nuklir bukan sekadar soal teknologi, melainkan strategi bertahan hidup. Iran belajar dari sejarah bahwa negara yang tidak memiliki kemampuan nuklir, seperti Afghanistan dan Irak, lebih rentan untuk diserang.

Meskipun pengamat menilai belum ada indikasi konkret bahwa AS akan segera melancarkan serangan militer secara penuh, eskalasi di kawasan Teluk ini tetap mengkhawatirkan. Jika perang pecah, dampaknya diprediksi tidak hanya meluluhlantakkan kawasan, tetapi juga akan mengguncang stabilitas ekonomi global secara signifikan.

Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau apakah diplomasi di Jenewa, Swiss, akan membuahkan hasil atau justru episode saling gertak ini akan berakhir pada konfrontasi fisik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)