Jawa Tengah 'Dikepung' Bencana Alam, Ini Langkah Mitigasi Gubernur Luthfi

18 February 2026 23:03

Curah hujan dengan intensitas tinggi telah menyebabkan tujuh tanggul jebol di wilayah Kabupaten Grobogan dan Demak, Jawa Tengah. Bencana ini mengakibatkan ribuan kepala keluarga terdampak dan ribuan hektar lahan pertanian tergenang air.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan bahwa tujuh titik tanggul yang jebol tersebut tersebar di beberapa lokasi, di antaranya satu titik di Sungai Cabean, tiga titik Sungai Jajar Baru, satu titik di Jratun, dan dua titik di Sungai Tuntang.

Jalur Semarang-Grobogan Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini memprioritaskan pemulihan akses jalan yang putus, terutama jalur yang menghubungkan Semarang, Demak, dan Grobogan di wilayah Sungai Tuntang.

"Saya sudah perintahkan dan sudah dicek di lapangan bahwa dalam waktu satu minggu minimal sudah harus clear. Kita gunakan jembatan Amko untuk mempercepat penyelesaian," ujar Ahmad Luthfi.

Banjir ini tercatat merendam setidaknya 10 kecamatan dan 42 desa dengan total sekitar 9.000 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak. Meski di wilayah Demak hanya tersisa sekitar 30 pengungsi karena air mulai surut, dampak besar justru dirasakan oleh sektor pertanian.
 
Baca juga: Jalur Semarang-Grobogan Putus, Polisi Alihkan Arus Lewat Dempet hingga Lingkar Demak

Data menunjukkan sekitar 1.066 hektare sawah di dua kabupaten tersebut terendam air. Dari jumlah tersebut, 882 hektare diusulkan mendapatkan asuransi gagal panen melalui Jasindo, sementara sisanya akan diberikan bantuan benih oleh Dinas Pertanian.

Walaupun terjadi bencana, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa status Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional tetap aman. Dengan luas lahan 1,5 juta hektare yang menghasilkan 9,11 juta ton padi atau setara 15,6% pasokan nasional, dampak banjir ini dinilai tidak signifikan terhadap surplus beras regional.

Solusi Jangka Panjang Penanganan Bencana di Jateng

Sebagai solusi jangka panjang, Kementerian PU menganggarkan dana untuk normalisasi Sungai Tuntang pada tahun ini. Proyek ini sangat krusial karena tingginya sedimen sungai yang memicu air meluap setiap kali hujan lebat terjadi. Targetnya, seluruh proses normalisasi tuntas pada 2026.

Selain infrastruktur fisik, Pemprov Jateng juga menyiapkan strategi mitigasi komprehensif, antara lain:
  • Mageri Segoro: Program penanaman mangrove di sepanjang 972 km garis pantai untuk menahan rob.
  • Desalinasi: Berkolaborasi dengan pihak akademisi untuk mengolah air payau menjadi air layak konsumsi, sehingga mengurangi pengambilan air tanah yang menyebabkan penurunan permukaan tanah 8-11 cm per tahun.
  • Menyiapkan Tagana dan Desa Tangguh Bencana di seluruh kabupaten/kota.
  • Cagar Alam: Koordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk menjaga fungsi lahan di wilayah Gunung Slamet dan Sindoro sebagai daerah resapan.
Terkait pendanaan, penanganan bencana ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk penggunaan dana APBD, bantuan CSR, Baznas, hingga dukungan langsung dari pemerintah pusat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)