Semarang: Kawasan Pecinan Semarang kini berkembang lebih dinamis dan terbuka bagi masyarakat luas. Saat ini, kawasan Pecinan mulai banyak dikunjungi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.
Tak hanya itu, generasi mudanya pun masih terus mempertahankan sejarah, budaya dan adat istiadatnya. Di tengah pembangunan kota modern, kawasan Pecinan Semarang ini tetap berdiri kokoh dalam merajut tradisi, sejarah dan juga akulturasi budaya.
Saat menelusuri kawasan Pecinan, tim Metro TV bertemu dengan Ulin, salah satu penggiat di Pecinan Semarang selama kurang lebih sepuluh tahun. Ia menyebut wajah Pecinan Semarang kini lebih modern dan masyarakatnya dinamis.
Kawasan Pecinan dulu lebih tertutup dan dihindari masyarakat, tapi saat ini justru banyak dikunjungi masyarakat dengan berbagai tujuan. Secara bangunan kawasan Pecinan tidak banyak berubah, masih khas dengan bangunan lama.
"Satu sisi bagi bisnis tentu baik untuk pendapatan kota Semarang. Tapi di sisi lain ada kekhawatiran juga dari masyarakat dengan semakin banyaknya orang asing yang masuk ke tempat ini, maka saat ini warga juga membuat sebuah kegiatan di mana mereka lebih bisa memberdayakan Pecinan Semarang. Jadi itulah kondisi terkini di Pecinan Semarang, masyarakatnya lebih hidup, walaupun mungkin kalau orang luar tidak terlalu melihat tetapi perkembangannya jauh lebih positif daripada beberapa dekade yang lalu," kata Ulin, dalam program Metro Siang Metro TV, Selasa, 25 Agustus 2026.
Selain itu antusiasme generasi muda juga kian terlihat. Mereka kini mulai kembali memahami sejarah serta menjalankan ritual kebudayaan leluhur mereka.
Salah satunya adalah parade arak-arakan dan Festival Sampo sebagai peringatan kedatangan Cheng Ho yang dimulai dari kelenteng Tay Kak Sie hingga kampung Sampookong. Berbagai kegiatan kebudayaan
Tionghoa lainnya di
Pecinan juga tetap lestari serta dirayakan lebih meriah.
Dalam menjaga kelangsungan kawasan Pecinan Semarang ini, pegiat kebudayaan dan warga lokal memilih konsep wisata urban. Masyarakat dilibatkan dalam mengembangkan potensi lokal, seperti mural pasar gang baru, edukasi gastronomi lunpia Semarang, hingga kunjungan ke roastery dan kelenteng tua berusia lebih dari satu abad. Pengunjung diajak menikmati suasana kawasan ini sebagai pemukiman warga tanpa mengubah karakter asli lingkungan.
"Orang bisa datang ke Pecinan melihat ada Dharma Buto Roastery, ada kelenteng-kelenteng yang usianya sudah lebih dari seratus tahun tentu saja, kelenteng milik keluarga, kelenteng milik umat dan sebagainya yang masing-masing punya dewa sendiri. Jadi kalau orang mau berdoa minta sesuatu bisa ke kelenteng yang berbeda, dan tidak hanya sembahyang karena sekarang juru kuncinya istilahnya gitu yang ada di kelenteng mereka lebih terbuka, mereka mau diajak cerita," kata Ulin.
Sementara itu, dari sisi para pedagang di kawasan Pecinan, juga merasakan kedatangan wisatawan ketika berbelanja di kawasan tersebut. Bagi mereka, banyaknya wisatawan yang berkunjung memberikan keberkahan tersendiri untuk menambah kantong pendapatan mereka.
"Kalau pedagang pengennya ramai ya nggak kayak seperti yang dulu. Banyak pengunjung sekarang kan di Pecinan Semarang. Sudah banyak nih, ada apa wisatawan yang datang, renovasinya juga banyak, mereka jadi tertarik di sini. Jadi pengennya lebih ramai lagi," kata Sari, salah satu pedagang di kawasan Pecinan Semarang.
Para pedagang berharap revitalisasi serta peningkatan pariwisata dapat kembali meramaikan aktivitas perdagangan tradisional di Pecinan Semarang.