15 January 2026 14:53
Jakarta: Komedian senior Tubagus Dedi Suwendi Gumelar alias Miing Bagito menilai pertunjukan komedi Mens Rea yang dibawakan Pandji Pragiwaksono sebagai sebuah lompatan besar dalam sejarah perkembangan komedi Indonesia. Mens Rea menandai fase baru kedewasaan penonton Indonesia, di mana tawa tidak hanya lahir dari slapstick, tetapi juga dari pemahaman atas realitas yang dihadapi bersama
Hal ini juga menunjukkan, bahwa komedi saat ini tidak lagi sekadar hiburan ringan, melainkan menjadi ruang katarsis publik untuk menyalurkan keresahan sosial, politik, dan ekonomi.
“Komedi itu sudah menjadi pembebas. Orang datang, bayar tiket, lalu menitipkan kegelisahannya lewat tawa. Itu bukan perkara kecil,” ujar Miing, dalam program Meet Nite Live Metro TV, Kamis, 15 Januari 2026.
Miing menilai materi yang disampaikan Pandji sejatinya bukan hal baru, karena bersumber dari isu-isu yang telah beredar luas di ruang publik dan media massa. Peran komedian, menurutnya, adalah sebagai reflektor yang memantulkan kembali realitas sosial dengan cara yang berbeda, sehingga dapat diterima dan dipahami oleh penonton.
Namun demikian, Miing mengingatkan bahwa komedi tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia menekankan pentingnya keadaban, etika, serta kesadaran budaya dalam setiap pertunjukan. Terlebih ketika ditayangkan di platform publik, seperti Netflix, yang menjangkau audiens luas dengan latar belakang beragam.
“Pandji tampil profesional, tapi tidak ada pertunjukan yang sempurna. Ada pilihan diksi dan etika yang perlu menjadi perhatian. Komedian harus punya self-censorship,” kata Miing.
