Menelusuri Sejarah Erupsi Gunung Sinabung

4 September 2026 08:23

Jakarta: Gunung Sinabung baru saja erupsi lagi pada 31 Agustus lalu. Ini merupakan erupsi pertama yang terbesar setidaknya setelah 5 tahun terakhir, atau terakhir pada 2021. 

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara ini menjadi salah satu gunung api yang memiliki catatan panjang aktivitas erupsi. Sempat tidur selama ratusan tahun, Gunung Sinabung  kembali menunjukkan aktivitasnya pada 2010. Sejak saat itu erupsi berulang kali terjadi, dan dampaknya dirasakan masyarakat di sekitar kawasan gunung. 

Jejak sejarah erupsi Gunung Sinabung


Catatan letusan besar terakhir Gunung Sinabung sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Tepatnya pada 1600, sebelum Sinabung kembali tidur selama kurang lebih 400 tahun. Hingga kemudian pada 29 Agustus 2010, erupsi kembali terjadi. Akibatnya, lebih dari 12 ribu warga harus kemudian dievakuasi. 

Beberapa hari kemudian, tepatnya 7 September 2010, erupsi yang besar kembali terjadi. Kali ini kolom abu teramati menjulang hingga sekitar 5 km di atas puncak gunung.
Dampaknya, sekitar 20 hingga 30 ribu orang pada saat itu harus dievakuasi. 

Aktivitas Sinabung kemudian berlanjut lagi pada 15 September 2013. Pada saat itu Sinabung kembali memasuki fase erupsi. Kemudian pada 1 Februari 2014 awan panas menerjang kawasan Gunung Sinabung. Peristiwa ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia. 2 tahun berikutnya, 21 Mei 2016, awan panas kembali meluncur. Jangkauannya mencapai sekitar 4,5 km. 7 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Aktivitas erupsi Gunung Sinabung terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Pada Mei 2017  sebanyak 7.214 jiwa atau 2.038 keluarga harus mengungsi akibat erupsi. Setahun kemudian pada 19 Februari 2018 Sinabung kembali mengalami letusan yang besar. Saat itu kolom abu teramati mencapai lebih dari 16 km. Meski letusan tergolong besar tapi tidak ada korban jiwa.

Erupsi besar kembali terjadi pada 25 Mei dan 9 Juni 2019. Setahun berikutnya pada 8 Agustus 2020 erupsi lagi disertai pertumbuhan kubah lava baru. Aktivitas erupsi ini masih berlanjut, tepatnya 2 Maret serta 13 hingga 14 Mei 2021.

Dalam satu tahun, rentang bulannya bisa berbeda-beda  aktivitas erupsinya atau kejadian erupsinya. Pada periode ini kolom abu teramati hingga mencapai 12,2 km. 

Dampak letusan Sinabung


Rangkaian erupsi Gunung Sinabung menunjukkan bahwa dampak erupsi bukan hanya terlihat dari aktivitas vulkanik.
Masyarakat di sekitar juga harus menghadapi resiko evakuasi kemudian awan panas hingga kehilangan nyawa. Dalam rentang erupsi yang terjadi ada ribuan hingga puluhan ribu warga harus meninggalkan rumah mereka. Peristiwa ini juga menyebabkan korban jiwa.

Kondisi ini sejatinya menunjukkan bahwa aktivitas gunung api memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. 

Erupsi Sinabung 2026


Kondisi pada 2026, pergerakan dan aktivitas Gunung Sinabung kembali menjadi perhatian. Sebanyak 615 warga Desa Kuta Tengah harus mengungsi di Posko Penanganan Darurat, Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Sementara itu warga Desa Payung masih bertahan di rumah. Kondisi warga tetap siaga dan berada dalam pemantauan. 

Kondisi terkini ini menjadi pengingat bahwa masyarakat di kawasan rawan erupsi harus terus memantau perkembangan aktivitas gunung serta mengikuti arahan dari petugas.

Dan jejak panjang erupsi Sinabung ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik dapat kembali terjadi setelah periode tenang. Erupsi tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat, tapi kemudian juga masyarakat yang ada di sekitar Gunung Sinabung harus menggunakan masker untuk bisa beraktivitas dan menjaga kesehatan mereka. Erupsi juga berdampak terhadap sejumlah pembatalan penerbangan dari dan ke Bandara Kualanamu.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X