Jakarta: Cicak dan sejumlah jenis kadal memiliki kemampuan melepaskan ekornya secara sengaja ketika berada dalam kondisi terancam. Proses ini dikenal sebagai autotomi.
Ketika dikejar predator, cicak dapat melepaskan ekornya untuk mengalihkan perhatian. Ekor yang terputus masih dapat bergerak selama beberapa saat sehingga predator bisa terdistraksi. Sementara itu, cicak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Tubuh cicak juga memiliki mekanisme untuk mengurangi kehilangan darah setelah ekornya terlepas. Pembuluh darah di sekitar bagian yang terputus dapat menyempit dan menutup sehingga luka dapat segera tertangani.
Bagaimana ekornya bisa tumbuh kembali?
Setelah ekor terlepas, tubuh cicak mulai melakukan proses regenerasi. Di area bekas ekor terbentuk kumpulan sel khusus yang disebut blastema. Sel-sel di dalam blastema kemudian berkembang biak dan berdiferensiasi menjadi berbagai jaringan yang dibutuhkan untuk membentuk ekor baru, seperti otot, kulit, pembuluh darah, dan saraf. Proses pertumbuhan kembali ini tidak berlangsung instan. Waktunya dapat berbeda-beda tergantung spesies, tetapi umumnya membutuhkan beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Tidak selalu sama dengan ekor sebelumnya
Meski dapat tumbuh kembali, ekor baru tidak selalu identik dengan ekor yang asli. Kemampuan regenerasi juga berbeda pada setiap spesies. Ada yang dapat menghasilkan ekor dengan struktur yang cukup kompleks, sementara lainnya hanya membentuk versi yang lebih sederhana. Kemampuan regenerasi pada cicak ini juga menarik perhatian para ilmuwan. Dengan mempelajari bagaimana sel-sel hewan dapat memperbaiki dan membentuk kembali jaringan, penelitian tersebut dapat membantu pemahaman mengenai proses regenerasi jaringan pada makhluk hidup. (Titik Nurmalasari)