3 November 2026 18:57
Bank Indonesia (BI) memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas perekonomian serta ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan dinamika geopolitik global.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga. Hal tersebut tercermin dari neraca perdagangan periode Januari hingga September 2026 yang mencatatkan surplus USD10,61 miliar. Khusus September 2026, surplus perdagangan mencapai USD3,36 miliar.
"Ketahanan eksternal Indonesia perlu terus diperkuat guna memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global," ujar Destry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV Tahun 2026 di Jakarta, dikutip dari tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 3 November 2026.
Dari sisi aliran modal, investasi portofolio asing pada awal triwulan IV-2026, hingga 23 Oktober 2026, kembali mencatatkan arus masuk bersih atau net inflows sebesar USD0,04 miliar. Arus modal tersebut ditopang oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Secara kumulatif sejak Januari hingga 23 Oktober 2026, arus masuk bersih investasi portofolio asing mencapai USD13,23 miliar.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar USD146,3 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.