Kualitas Udara Jakarta Memburuk Imbas Karhutla, Warga Diimbau Jaga Kesehatan

20 October 2026 13:20

Jakarta: Kualitas udara di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, mengalami penurunan akibat sebaran kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data pemantauan IQAir pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026, indeks kualitas udara Jakarta berada dalam kategori tidak sehat.

Masyarakat diimbau untuk memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara berkala sebagai panduan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. ISPU membagi kualitas udara ke dalam lima kategori: baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya. Informasi ini dapat diakses publik melalui situs serta aplikasi resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan bahaya kandungan polutan di dalam asap karhutla yang diistilahkan oleh WHO sebagai toxic mix.

"Kandungan asap kebakaran hutan mencakup partikel halus PM2.5 hingga ultrafine particle yang mampu menembus alveolus dan aliran darah. Selain itu, terdapat gas beracun seperti CO?, NO?, dan ozon, serta senyawa organik berbahaya seperti polyaromatic hydrocarbon (PAH)," ujar Prof. Tjandra dalam siaran Metro Siang Metro TV, Selasa 20 Oktober 2026.

Paparan asap pekat tersebut berpotensi menimbulkan lima dampak buruk utama pada sistem pernapasan:

  • Iritasi saluran napas yang memicu batuk, dahak, dan rasa berat di dada.

  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta serangan sesak napas bagi penderita asma.

  • Perburukan ISPA menjadi pneumonia akibat penumpukan cairan di paru-paru.

  • Gangguan sistem kardiosirkulasi akibat partikel mikroskopis yang menyebar ke peredaran darah.

  • Kerusakan paru kronis (pneumokoniosis) pada paparan jangka panjang berintensitas tinggi, di samping risiko iritasi mata, kulit, dan saluran cerna.

Menghadapi situasi ini, warga Jakarta mulai mengambil langkah untuk meminimalkan risiko. Reza, seorang warga ibu kota, memilih selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

"
Untuk di Jakarta terakhir kali ngecek itu kurang sehat ya. Jadi kayak banyak sekarang udah banyak kabut dan juga mungkin dari Sumatra atau dari Kalimantan juga udah masuk ke Jakarta kayaknya. Kalau tentunya sih pakai masker sih, kalau sejauh ini," kata Reza. 

 Sementara itu, warga lainnya, Chandra, berinisiatif beralih ke sepeda dan transportasi umum demi menekan emisi lokal dari kendaraan pribadi.

"Mulai bersepeda lagi. Jadi mengurangi penggunaan sepeda motor atau mungkin solusi lainnya kita geser ke transportasi umum gitu daripada kendaraan pribadi," ungkap Chandra. 

Masyarakat disarankan untuk membatasi kegiatan di luar ruangan, menggunakan masker berstandar tinggi seperti N95 saat harus keluar rumah, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi dan istirahat yang cukup.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X