Jakarta: Ribuan liter air dijatuhkan dari langit. Api di pucuk pohon memang langsung mati. Tetapi hanya berselang sesaat, asap putih kembali menyembur dari rekahan tanah. Mengapa operasi berbiaya mahal ini seolah jalan di tempat? Karena kita bukan sedang melawan api biasa. Kita sedang berhadapan dengan tanah yang membara dari dalam perut bumi.
Anatomi gambut, dari spons jadi bahan bakar
Untuk memahami mengapa bom air dari langit seolah tidak berdaya, kita harus melihat apa yang sebenarnya ada di bawah telapak kaki kita.
Secara alami,
rawa gambut adalah spons besar atau spons raksasa yang dibangun oleh alam dengan sangat perlahan dan hati-hati. Dari ranting, daun, pohon yang tenggelam di air rawa asam, ia menumpuk sangat lambat, yaitu sekitar 1 milimeter atau kurang setiap tahunnya. Artinya, gambut setebal 3 meter bisa membutuhkan ribuan tahun untuk terbentuk.
Dalam kondisi aslinya, gambut ini mampu menahan air hingga sekitar 13 kali lipat dari berat keringnya, sehingga ia sulit terbakar.
Apa itu smouldering? Rahasia api bawah tanah
Tetapi mengapa kini benteng air itu justru bisa membakar dirinya sendiri dari dalam? Untuk menjawabnya, kita perlu mendengar penjelasan ilmiah dari peneliti yang mendalami karakter api di bawah tanah.
Secara sains, peneliti mengatakan ada perbedaan besar antara api di permukaan dengan bara api di bawah tanah:
- Kebakaran Biasa (Flaming/api permukaan): Merupakan kobaran di udara bebas yang lidah apinya menjulang dengan suhu tinggi di atas 800°C serta reaksi cepat. Ia akan langsung mati begitu disiram air.
- Pembakaran Bara (Smouldering/api bawah tanah): Oksigen masuk perlahan lewat celah-celah serat tanah kering. Bara terus hidup membara tanpa api di kedalaman beberapa meter dengan suhu 250 sampai 600°C, menyebar lambat lewat pori-pori, meski ditutupi abu tebal. Pembakaran ini sulit dipadamkan.
Ketika helikopter menjatuhkan bom air dari langit, air itu hanya membasahi lapisan luar dan langsung menguap karena panasnya tanah. Ia tidak benar-benar menjangkau bara di kedalaman tanah. Tetapi spons raksasa ini tidak mengering dengan sendirinya. Ada campur tangan tata air dan pembukaan kanal yang mengubahnya menjadi timbunan bahan bakar.
Dilema drainase mematangkan bahan bakar
Pertanyaannya, lalu bagaimana spons raksasa yang seharusnya penuh air ini bisa menjadi lahan kering yang mudah terbakar? Di banyak lahan gambut, kanal dibuat untuk mengalirkan air tanah keluar. Muka air tanah sering turun lebih dari 40 sentimeter, batas yang ditetapkan pemerintah untuk menandai kerusakan gambut.
Begitu kehilangan air, spons menyusut, menolak air, dan gambut berubah menjadi briket biomassa atau timbunan bahan bakar padat yang siap menyala kapan saja.
Ketika tanah sudah terlanjur mengering dan membara di kedalaman, di sinilah perjuangan sesungguhnya beralih ke pundak petugas darat di garis depan.
Cara padamkan api gambut
Perjuangan paling berat bertumpu pada petugas darat di lapangan. Mereka tidak bisa hanya menyiram dari atas. Sambil bertaruh nyawa menembus kepungan asap, petugas harus menusukkan pipa besi panjang jauh ke dalam perut bumi untuk menyuntikkan air dan cairan pembasah (formula penembus) langsung ke sarang bara secara injeksi presisi.
Drone dengan kamera termal (mata termal) membantu tim menemukan titik panas di bawah tanah yang tidak kasat mata.
Tetapi para pejuang ini sering kali menghadapi tantangan logistik dan jalan buntu. Dari mana mereka mendapatkan air bila parit dan kanal di sekitar mereka sudah kering kerontang? Di lapangan, petugas kerap harus menyambung selang sampai jauh hanya untuk mendapatkan sumber air baku.
Rewetting: Cara Rusia dan AS atasi kebakaran
Melihat beratnya medan di lapangan, negara-negara lain yang pernah mengalami krisis serupa memilih satu jalan keluar yang sama: memulihkan airnya sebelum api datang. Bencana ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia; negara-negara lain pernah mengalami hal yang sama dan memetik pelajaran yang sangat mahal:
- Moskow, Rusia (2010): Saat dilumpuhkan asap gambut hebat, pemerintah memicu megaproyek pembasahan kembali (rewetting) lebih dari 70.000 hektare rawa gambut bekas drainase secara permanen.
- Amerika Serikat (2008): Di North Carolina, otoritas menghabiskan 20 juta dolar untuk memadamkan satu kebakaran gambut di Evans Road, lalu memulihkan lahan gambut yang pernah dikeringkan melalui stabilisasi muka air tanah sebagai langkah mitigasi utama.
Lalu bagaimana di Indonesia? Pemantauan Pantau Gambut menemukan sekitar 70 persen sekat kanal yang diamati berada dalam kondisi rusak. Bahkan di lebih dari separuh lokasi restorasi, air tanah masih di bawah ambang aman, sehingga gambut tetap kering dan rentan terbakar.
Pelajaran dari seluruh dunia sudah sangat jelas: kunci keselamatan bukan pada seberapa banyak air yang kita semprotkan saat kebakaran, tetapi pada konsistensi menjaga tandon air itu tetap penuh sebelum kemarau datang.
Korban karhutla 2026
Di balik perdebatan sains dan kebijakan, ada harga kemanusiaan yang sangat mahal yang harus dibayar di lapangan:
- Data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional sekitar 202.004 hektare pada periode Januari sampai Juli tahun ini, dengan episentrum baru di Papua Selatan serta sebaran di Kalimantan dan Sumatra.
- Data Kementerian Kesehatan menunjukkan dampaknya pada warga hingga awal Oktober ini: tercatat 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada 7 provinsi terdampak.
- Sekitar 62.400 balita terpapar ISPA (sekitar 22,5 persen dari total kasus dialami anak usia 0 sampai 5 tahun). Kelompok ini termasuk paling rentan terhadap partikel halus dari asap.
Korban-korban ini adalah warga yang terdampak langsung. Mereka menunjukkan pentingnya menjaga gambut tetap basah.
Sumber: Redaksi Metro TV