Jakarta: Gempa bumi kuat mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.27.45 WIB. Dari pembaruan BMKG, Magnitudo gempa tercatat 6,7 dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 42 km Tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 meter.
Fakta Utama gempa Palu-Sigi
Karena ini termasuk gempa dangkal, guncangan gempa dirasakan cukup luas di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Getaran kuat terasa di Palu, kemudian Sigi, Donggala, Parigi Mutong, hingga sejumlah daerah lain di sekitarnya. Akibat guncangan yang terasa kuat dan berlangsung selama beberapa detik ini warga berhamburan keluar dari rumah maupun gedung untuk menyelamatkan diri.
Sementara itu BMKG mencatat aktivitas gempa susulan yang cukup intens pasca gempa Utama. Hingga sore hari kemarin jumlah gempa susulan telah mencapai puluhan kali yang menunjukkan bahwa pelepasan energi di zona sumber gempa ini terus terjadi.
BMKG menyatakan bahwa gempa ini merupakan gempa tektonik dangkal yang dipicu aktivitas sesar Sausu, salah satu sesar aktif di Sulawesi Tengah. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki pola pergerakan sesar turun atau normal fault.
Gempa tidak berpotensi tsunami
Yang perlu digarisbawahi adalah BMKG juga sempat memastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Sebab dari hasil pemodelan menunjukkan sumber gempa berada di daratan, sehingga tidak menyebabkan deformasi dasar laut yang memicu atau yang dapat memicu terjadinya tsunami.
BMKG juga menegaskan gempa kali ini berasal dari sesar Sausu bukan dari segmen utama sesar Palu-Koro yang menjadi pemicu bencana besar pada tahun 2018. Meski demikian masyarakat tetap diminta untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dalam beberapa waktu ke depan seperti yang tadi disampaikan juga bahwa gempa susulan sempat terjadi hingga sore hari.
Dampak gempa
Sampai di Selasa sore proses pendataan juga terus berlangsung. Sampai hari ini juga terus di update.
BNPB bersama dengan BPBD melaporkan kerusakan terjadi di sejumlah wilayah terdapak terutama di kota Palu, Sigi dan beberapa daerah di sekitar Episendrum. Kerusakan ini meliputi rumah warga kemudian fasilitas umum sampai infrastruktur pendukung. Dari laporan terakhir sedikitnya 8 orang mengalami luka-luka, 2 di antaranya dilaporkan mengalami luka serius. Namun angka ini masih bersifat sementara dan bisa saja berubah seiring dengan pendataan di lapangan.
Sementara itu di sektor layanan publik sejumlah pasien sempat dievakuasi keluar dari rumah sakit. Ini merupakan langkah antisipasi. Untuk itu Basarnas dan BPBD langsung mendirikan tenda darurat di area sekitar misalnya Rumah Sakit Undata Palu. Ini dilakukan untuk mengantisipasi pelayanan kesehatan kalau gempa susulan kembali terjadi.
Di sisi lain warga di berbagai titik juga memilih untuk bertahan di lapangan terbuka. Misalnya kemarin ada di halaman kantor pemerintahan sampai lokasi evakuasi sementara. Mereka mengaku masih khawatir dan trauma dengan adanya gempa susulan.
Flashback Palu 2018
Peristiwa yang terjadi Selasa kemarin ini langsung membuat masyarakat kembali teringat pada tragedi kelam 28 September 2018. Saat itu gempa dasyat Magnitudo 7,4 dipicu oleh aktivitas sesar Palu-Koro mengguncang hebat Sulewesi Tengah. Tidak hanya gempa, bencana ini juga memicu tsunami di Teluk Palu, dan ada fenomena lekuifaksi yang menenggelamkan wilayah Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Catatan sejarah menunjukkan bencana ini menelan korban jiwa hingga lebih dari 4 ribu orang, dan menjadi salah satu bencana geologi paling mematikan dalam sejarah Indonesia modern.
Wajar saja kalau misalnya trauma kolektif akibat bencana 8 tahun lalu ini masih sangat membekas di hati masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala. Makanya begitu gempa Magnitudo 6,7 terjadi kemarin, banyak warga yang kemudian langsung berinisiatif untuk evakuasi mandiri. Bahkan sebelum ada perintah resmi dari petugas.
Rekam jejak gempa Sulteng
Selain tragedi 2018 lalu, kawasan Sulawesi Tengah sudah beberapa kali diguncang gempa merusak dalam beberapa tahun terakhir. Ini menjadi bukti betapa tingginya aktivitas tektonik di sana. Karena wilayah ini berada tepat di titik pertemuan beberapa struktur sesuai aktif.
Sejauh mana mitigasi bencana?
Pascabencana 2018 silam, sebenarnya pemerintah pusat, daerah, BMKG, BNPB, hingga berbagai lembaga internasional sudah melakukan sejumlah langkah mitigasi, sudah belajar dari kondisi saat itu. Beberapa di antaranya adalah pembangunan hunian tetap bagi penyintas, pemutakhiran peta rawan bencana, sampai pemasangan alat pemantau gempa yang lebih rapat. Tidak hanya itu, petugas juga sudah menyusun jalur dan rambu evakuasi.
Ini memperkuat edukasi kebencanaan di sekolah maupun masyarakat dan menata ulang kawasan yang sebelumnya terdampak likuefaksi. Selain itu, standar bangunan tahan gempa juga sudah mulai diterapkan lebih ketat di sana. Ini terutama pada fasilitas publik dan bangunan vital. Pihak pemerintah daerah juga rutin menggelar simulasi evakuasi demi meningkatkan kesiap-siagaan warga dalam menghadapi bencana.
Namun gempa yang terjadi Selasa kemarin kembali menjadi pengingat bahwa mitigasi bukan cuma soal pembangunan fisik sesemata. Tetapi juga soal kesiapan masyarakatnya. Respons cepat warga untuk langsung keluar menuju ruang terbuka kemarin menunjukkan kalau sebagian pelajaran dari bencana 2018 lalu sudah mulai tertanam.
Sekarang tantangannya adalah bagaimana memastikan apakah sistem peringatan kemudian jalur evakuasi dan bangunan publik yang ada benar-benar mampu berfungsi dengan baik ketika gempa besar kembali terjadi di masa mendatang? Jadi gempa magnitude 6,7 yang mengguncang Palu sekali lagi menegaskan bahwa Sulawesi Tengah berada di salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di Indonesia.
8 tahun setelah tragedi 2018 silam, pertanyaannya seberapa siap kemudian Palu dan juga wilayah sekitar menghadapi gempa besar berikutnya?
Sumber: Redaksi Metro TV