28 May 2026 23:27
Herman Budianto, relawan asal Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0, membagikan kisah kelamnya saat kapal pembawa bantuan untuk warga Gaza diadang dan dibajak secara brutal oleh tentara zionis Israel di perairan internasional.
Tujuan utama armada ini murni untuk menyelamatkan nyawa masyarakat sipil Palestina yang terkurung. Namun, niat baik tersebut justru dibalas dengan laras senjata dan penyiksaan fisik di luar batas kemanusiaan.
"Tujuan utama dari Global Sumud Flotilla adalah untuk membuka adanya blokade yang sekarang ini membikin sulit masyarakat di Gaza. Kita sangat mengkhawatirkan adanya kematian karena kelaparan dan tidak bisa ditangani karena langkanya obat," kata Herman dikutip dari Kontroversi Metro TV, Kamis 28 Mei 2026..
Diadang, Diikat, dan Disetrum
Upaya menembus blokade tersebut terhenti ketika tentara Israel mengepung armada dari berbagai penjuru. Herman bersaksi bahwa sejak detik pertama pasukan zionis naik ke atas kapal, teror fisik dan psikis langsung dimulai.
"Setelah kita di-intercept, mereka langsung mengikat kami. Dimasukkan ke bawah dalam posisi jongkok dan menunduk dengan dilakukan pemukulan-pemukulan dan juga penghinaan," ungkap Herman.
Penyiksaan semakin biadab ketika para relawan dipindahkan ke dalam kontainer di atas kapal perang Israel. Selama berhari-hari, mereka mengalami penyiksaan yang bertubi-tubi.
"Ada pemukulan, tendangan, setrum, disiram dengan air. Kita tidur di tempat yang ada airnya basah. Bahkan dilempari granat kejut yang menimbulkan luka cukup parah," tambahnya.