El Nino Picu Kemarau Panjang 2026: Pasokan Air Bersih Terancam, BMKG Imbau Kewaspadaan

14 September 2026 15:35

Fenomena El Nino yang berlangsung di Samudra Pasifik berdampak signifikan terhadap iklim di Indonesia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan bahwa Indonesia mengalami musim kemarau yang jauh lebih kering dan lebih panjang pada tahun 2026 dibandingkan dengan kondisi normal.

“Untuk tahun 2026 ini kita memang mengalami musim kemarau yang jauh lebih kering dan juga lebih panjang dibandingkan dengan kondisi normal. Hal tersebut juga dikontribusikan dengan fenomena El Nino yang saat ini berlangsung di Pasifik, yang turut menekan hujan di Indonesia sehingga kita mengalami musim kemarau.” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 14 September 2026.

Dampak kemarau ini mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah, mulai dari krisis air bersih, konflik pengairan sawah, hingga pergeseran pola tanam petani.

Krisis air bersih melanda Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 101.000 liter air bersih didistribusikan ke 20 titik rawan kekeringan di empat kecamatan, yakni Pakis, Tegalrejo, Salaman, dan Borobudur. Di Desa Majaksi, sumur warga mengering total karena belum terjangkau Pamsimas, sementara di Desa Tegalarum debit air Pamsimas mengalami penurunan drastis sejak Februari.

Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Puncak Salabose, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, di mana warga kesulitan air dan harus mengandalkan bantuan armada tangki swadaya.

Dampak kekeringan bahkan memicu konflik sosial berujung maut di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Seorang petani berusia 70 tahun, Sadimin, tewas diduga diserang oleh tetangganya, S (35), menggunakan pisau akibat perselisihan mengenai pembagian air irigasi sawah.
 


Peta Wilayah Terdampak dan Prediksi BMKG


BMKG memetakan bahwa dampak kekeringan akibat El Nino berbeda di tiap wilayah:
  • Jawa dan Sulawesi: Mengalami krisis air bersih akibat surutnya debit air sungai dan muka air tanah.
  • Sumatera: Wilayah selatan seperti Sumatera Selatan dan Lampung berada dalam kondisi Siaga dan Awas. Namun, wilayah di utara khatulistiwa seperti Riau, Sumatera Utara, dan Aceh tetap memiliki curah hujan tinggi dan tidak terdampak El Nino.
  • Papua: Kekeringan meteorologis berpusat di Papua bagian selatan.

BMKG memperkirakan musim hujan akan masuk secara bertahap mulai pertengahan Oktober 2026 dari wilayah barat seperti Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Adapun wilayah Banten dan Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November 2026.

BMKG menegaskan informasi peringatan dini mengenai kondisi kemarau kering ini telah disampaikan ke berbagai sektor (sumber daya air, pangan, dan energi) sejak akhir Februari 2026.

Strategi Adaptasi Petani


Menghadapi keterbatasan air pada Musim Tanam 3 (MT3), para petani di Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, memilih beradaptasi dengan mengubah pola tanam dari padi ke komoditas hemat air.

Di Desa Brojol, petani beralih menanam jagung dengan memanfaatkan sumur dalam secara bergantian. Saat ini, harga jagung kering di tingkat petani mengalami kenaikan menjadi Rp6.300 hingga Rp6.500 per kg.

Sementara di Desa Jeruk, petani memilih menanam kacang tanah yang lebih tahan terhadap cuaca kering. Harga kacang tanah pun melonjak hingga 70 persen, di mana kacang tanah basah mencapai Rp15.000 per kg dan kacang tanah kering menembus Rp20.000 per kg.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X