Kemarau Panjang, Sumber Air Menyusut

12 September 2026 15:33

Jakarta: Musim kemarau tahun ini terasa cukup panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Kemarau berkepanjangan diperparah dengan El Nino yang melanda Indonesia. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami curah hujan rendah di bulan Oktober hingga November tahun 2026.

Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan diperkirakan akan berlangsung bertahap dan berbeda antarwilayah. 

Seberapa luas wilayah yang alami kemarau Panjang?


Prediksi BMKG di musim kemarau panjang di tahun 2026 ini, di mana BMKG memprediksi sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau sekitar 567 zona musim ini masih akan mengalami musim kemarau.

Data BMKG menjelaskan bahwa September masih akan menjadi periode puncak kemarau. Wilayah yang akan terjadi puncak kemarau ataupun kemarau panjang antara lain Sumatra Selatan, Lampung, sebagian Pulau Jawa, sebagian NTT, Kalimantan Selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku serta Papua Pegunungan.

Apa penyebabnya?


BMKG juga memprediksi bahwa curah hujan masih akan rendah di sebagian wilayah Indonesia, di mana penyebab dari kemarau panjang ini adalah El Nino yang kategorinya sangat kuat serta masih akan bertahan hingga awal 2027 mendatang. Ini juga berpengaruh terhadap rendahnya curah hujan di wilayah Indonesia. 

Bagaimana potensi curah hujan?


BMKG juga memprediksi bahwa ada tiga kemungkinan untuk curah hujan di Indonesia.

Ada sekitar 88,09 persen curah hujan masih akan rendah dan juga di bawah normal di wilayah Indonesia. Ada juga yang mengalami curah hujan normal di angka 8,02 persen dan juga di angka 3,89 persen yang berada di atas normal ataupun curah hujan tinggi tapi hanya 3 persen saja. Dari mayoritas 88 persen ini wilayah Indonesia masih akan mengalami kemarau panjang sampai awal  2027. 

Waduk-waduk alami kekeringan


Dampak dari kemarau panjang ada yang mengalami waduk kering dan juga sungai yang kering.

Ada tiga contoh waduk yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Waduk Dawuhan di wilayah Madiun Jawa Timur data per 7 September 2026 volume air yang kini ada adalah sekitar 500 ribu meter kubik. Sedangkan untuk kapasitas normalnya adalah 3,9 juta meter kubik, atau hanya sekitar 15 persen isi airnya dari kapasitas normal. 

Akan ada potensi distribusi air ke irigasi-irigasi yang direncanakan akan dihentikan di pertengahan September yang berasal dari sumbernya di Waduk Dawuhan ini. Sebelumnya waduk ini mampu mengairi sekitar 2.832 hektar lahan, dan sekarang hanya mampu mengairi 5 desa saja. 

Kemudian di Waduk Gembong, Pati, Jawa Tengah ini data per 3 September 2026, volume air terkini adalah sekitar 2,4 juta meter kubik. Kondisi ini terparah dalam enam tahun terakhir. 

Sementara di Waduk Benanga Lempake, Samarinda, Kalimantan Timur data per 5 September 2026 adalah volume air terkini sekitar 6,80 mdpl. Padaal kapasitas normalnya adalah 7,20 mdpl. Bagian waduk ini mulai terlihat mengering dan tidak mampu mengairi irigasi dan memasok kebutuhan air baku untuk Samarinda dan juga sekitarnya. 

Sejumlah sungai alami kekeringan


Ada lima sungai yang mengalami kekeringan. Di antaranya Mahakam, Kalimantan Timur; Kapuas, Kalimantan Barat; Silugonggo/Juana, Pati, Jawa Tengah; Tukad Ye Mawa, Tabanan, Bali; dan juga Cisadane dan Cimanceuri, Tanggerang.


Kekeringan mengakibatkan krisis air


Dampak dari kemarau panjang juga berpengaruh terhadap krisis air bersih di sejumlah wilayah. Dimana di kawasan Jawa Timur berpengaruh terhadap lebih dari 36.000 keluarga yang terdampak. Tapi untuk wilayah Jawa Timur sudah menerima distribusi air bersih di 20 kabupaten.

Di Pamekasan juga sudah ada yang terdampak sekitar 5.994 keluarga. Kemudian di Jawa Tengah  ada sekitar 25 kabupaten kota yang mengalami kekeringan. Dan di Demak sendiri saja ada 33.000 jiwa terdampak. Tetapi sudah menerima 1,21 juta liter air bersih. 

Kemudian di Jawa Barat ada sekitar 198 kecamatan dan 474 desa. Dimana di pertengahan Agustus  Pemprov Jawa Barat sudah menyalurkan sekitar 8,7 juta liter air bersih ke 23 kabupaten kota.

Kemudian di Dompu, NTB ada sekitar 1.877 keluarga terdampak. Di NTB, kekeringan meluas di 9 desa dan juga di 4 kecamatan. Sementara di NTT ada sekitar 212 kecamatan yang terancam krisis air. Dimana ada 25 kecamatan yang waspada untuk statusnya dan 121 kecamatan siaga. Serta 66 kecamatan awas untuk kekeringan. 

Kemudian di Kalimantan Timur ada sekitar 4 wilayah yang sudah disalurkan sekitar 160.000 liter air bersih di bulan Juli hingga bulan Agustus di wilayah terdampak yang ekstrem.

Kemudian di kawasan Provinsi Lampung ada sekitar 1.128 keluarga terdampak. Di Sumatra Selatan ada 3 kecamatan terdampak. Pada awal September tercatat ada kawasan Pali,  Musi Banyu Asin, Oku Timur, Prabu Mulih hingga Palembang yang mengalami kekeringan. Di Kepulauan Riau lebih dari 400 keluarga yang mengalami kekeringan. 


Solusi atasi kemarau panjang


Pemerintah juga sudah mengeluarkan sejumlah solusi serta mitigasi untuk kemarau berkepanjangan ini. Dimana yang pertama adalah pemerintah sudah melakukan distribusi air bersih ke beberapa wilayah yang mengalami kekeringan.

Kemudian juga sudah ada operasi modifikasi cuaca di beberapa wilayah untuk mengatasi kekeringan khususnya untuk karhutlah di sejumlah daerah. Kemudian juga pengaturan operasi waduk serta penghematan penggunaan air dan juga pemompaan dan juga normalisasi irigasi untuk mengairi persawahan yang mengalami kekeringan karena waduknya tidak mampu lagi mengairi sejumlah persawahan di beberapa daerah. 

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X