Iran Perkuat Kendali di Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS-Israel

19 May 2026 13:01

Iran: Iran memperketat aturan perlintasan kapal di Selat Hormuz sebagai respons atas agresi laut Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Akibat kebijakan itu, sejumlah kapal terpaksa tertahan dan berubah menjadi 'kapal hantu' di sekitar Selat Hormuz sambil menunggu izin untuk melintas.

Tak hanya memperketat aturan pelayaran di Selat Hormuz, Iran juga berencana memberlakukan tarif serta lisensi terhadap perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon untuk penggunaan kabel bawah laut.

Kabel bawah laut tersebut merupakan infrastruktur vital internet global yang menopang layanan perbankan, komunikasi militer, layanan cloud, game online, hingga perdagangan internasional di berbagai negara.

Iran menyebut sebanyak 30 kapal telah memperoleh izin melintas di Selat Hormuz sejak Rabu lalu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, jalur tersebut tetap terbuka bagi kapal-kapal yang bersedia bekerja sama dengan otoritas Iran. Sementara itu, Wakil Ketua Parlemen Iran Hamid Reza Haji Babai menyatakan, Selat Hormuz memiliki peran yang lebih penting dibanding bom atom dalam strategi sanksi terhadap pihak agresor.

"Saya sudah katakan kepada orang itu bahwa Selat Hormuz bagi kami lebih pentinng daripada bom atom. Mengapa? karena lihat, ini adalah sebuah alat yang ada di tangan kami," tutur Hamid, dikutip dari Breaking News, Metro TV, Selasa, 19 Mei 2026.  
 

Baca Juga: Iran Ancam Jadikan Teluk Oman 'Kuburan' bagi Kapal AS Jika Blokade Tak Dihentikan

Hingga saat ini Selat Hormuz masih berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Setiap kapal tanker minyak maupun kapal komersial yang hendak melintasi jalur tersebut diwajibkan memperoleh izin terlebih dahulu dari IRGC. Adapun syarat utama yang tetap diberlakukan di jalur ini adalah larangan bagi kapal milik negara musuh untuk melintasi Selat Hormuz dalam kondisi apa pun.

Di sisi lain, perundingan antara AS dan Iran hingga kini masih belum menemukan titik terang. Pemerintah AS menegaskan tidak bersedia memberikan kompensasi atas kerusakan di Iran akibat agresi AS-Israel serta menuntut penyerahan 400 kg uranium milik Iran.

Sementara itu, Iran menegaskan setiap proses negosiasi hanya dapat dilakukan jika lima syarat utama dipenuhi, yakni penghentian agresi di seluruh lini terutama di Lebanon, pencabutan sanksi terhadap anti Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, pembayaran ganti rugi atas dampak agresi AS-Israel, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

"Jangan lupa bahwa pada dasarnya, alasan mengapa Iran dan Oman berpikir untuk menetapkan mekanisme demi memastikan lalu lintas kapal yang aman melewati Selat Hormuz, adalah karena peristiwa-peristiwa seperti yang terjadi pada bulan Esfand (Agresi AS-Israel)," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. 

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)