Harga Bahan Pokok Naik di Pasar Surabaya, Pedagang Keluhkan Penjualan Sepi

11 June 2026 10:58

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok di Pasar Kendangsari, Surabaya, Jawa Timur, terus dikeluhkan pedagang dan pembeli. Meski stok barang masih tersedia, lonjakan harga dinilai telah menekan daya beli masyarakat dan menyebabkan aktivitas jual beli di pasar tradisional semakin lesu.

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain beras, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, hingga tepung. Pedagang mengaku kenaikan harga terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Salah seorang pedagang, Hadi, mengatakan harga beras termurah yang sebelumnya berada di kisaran Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp15 ribu per kilogram. Sementara beras premium dijual hingga Rp18 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada minyak goreng MinyaKita. Menurut Hadi, harga jual di tingkat pedagang telah mencapai Rp22 ribu per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tercantum sebesar Rp15.700 per liter.

"Kalau MinyaKita harganya sudah luar biasa, sekarang Rp22.000. Padahal HET-nya Rp15.700, tapi kulakannya sendiri sudah hampir Rp20 ribu lebih," ujarnya dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 11 Juni 2026. 

Tak hanya itu, harga tepung kanji juga mengalami lonjakan cukup tajam. Hadi menyebut harga komoditas tersebut naik dari sekitar Rp10 ribu menjadi hampir Rp13 ribu per kilogram atau meningkat sekitar 25 persen.

Meski harga terus merangkak naik, Hadi memastikan pasokan barang di pasar masih aman. Namun kondisi tersebut tidak diikuti peningkatan transaksi karena banyak konsumen mengurangi pembelian akibat harga yang semakin mahal.


"Kalau stoknya masih ada, masih banyak, tidak masalah. Tapi penjualannya sekarang sulit, sepi," katanya.

Menurut Hadi, keluhan tidak hanya datang dari pedagang, tetapi juga dari para pelanggan yang merasakan langsung dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. Ia mengungkapkan banyak pedagang mengalami penurunan omzet karena jumlah pembeli terus berkurang.

"Dari pembeli, dari pelanggan saya itu semuanya sudah mengeluh. Penjualannya sepi, tapi barang-barang naik. Pembelinya sudah menurun dan pasar mulai sepi," ujarnya.

Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu pedagang mempertahankan usaha mereka di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.

"Kami berharap harga stabil. Jangan terlalu murah, jangan terlalu mahal, supaya pembeli dan penjual sama-sama bisa berjalan dengan baik," kata Hadi.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)