Tragedi Selat Sunda, Keselamatan Jurnalis Tak Boleh Diabaikan-Beranda Nasional

Misbahol Munir • 11 September 2026 17:35

Jakarta: Peliputan di wilayah rawan bencana selalu membawa risiko yang tidak kecil bagi jurnalis. Hal itu kembali menjadi perhatian setelah lima jurnalis yang melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda hilang kontak. Tim SAR gabungan hingga kini terus memperluas pencarian terhadap delapan orang yang berada dalam speedboat tersebut.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai keselamatan jurnalis saat melakukan peliputan di wilayah rawan bencana. Tuntutan untuk mendapatkan informasi secara cepat perlu berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi risiko di lapangan.
 

 

Kronologi Hilangnya Lima Jurnalis di Selat Sunda

Rombongan berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan yakni M. Bagus Khoirunas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews.id, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan pewarta foto lepas Donal Husni. Selain lima jurnalis, terdapat nakhoda, anak buah kapal, dan seorang pemandu. Dengan demikian, total delapan orang masih dalam pencarian.

Tim SAR kemudian melakukan pencarian berdasarkan rute perjalanan dan titik komunikasi terakhir rombongan. Pada hari kedua, area pencarian diperluas dan dibagi menjadi sejumlah Search and Rescue Unit atau SRU.

Memasuki hari ketiga, area pencarian kembali diperluas menjadi enam sektor dengan luas sekitar 2.483 mil laut persegi. Pencarian juga diarahkan hingga sisi utara Gunung Anak Krakatau.

Memasuki hari keempat, operasi SAR terus diperluas. Basarnas mengerahkan sejumlah kapal dan lebih dari 300 personel. Tiga kapal TNI AL juga dilibatkan untuk memperkuat pencarian di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pencarian tidak hanya dilakukan melalui laut. Tim SAR juga mengerahkan helikopter Dauphin AS365 N3+ serta drone untuk membantu pemantauan dari udara.

Tim SAR juga menemukan sebuah life jacket di perairan sekitar Selat Sunda. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan apakah pelampung tersebut berkaitan dengan rombongan jurnalis yang hilang. Tim masih melakukan identifikasi terhadap temuan tersebut.

Basarnas memastikan operasi pencarian akan dioptimalkan selama tujuh hari. Keputusan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pencarian dan evaluasi operasi di lapangan.
   

Keselamatan Jurnalis dalam Peliputan Bencana

Hilangnya lima jurnalis ini juga menjadi pengingat bahwa peliputan di wilayah bencana memiliki risiko yang tidak kecil. Jurnalis yang bertugas di kawasan rawan bencana harus berhadapan dengan kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu. Dalam kasus Gunung Anak Krakatau, aktivitas vulkanik, kondisi laut, cuaca, hingga jarak dari daratan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan.

Karena itu, persiapan keselamatan menjadi bagian penting sebelum jurnalis diterjunkan ke lapangan. Pemantauan informasi dari otoritas, penilaian risiko, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta rencana evakuasi perlu dipastikan sebelum peliputan dimulai.

Perusahaan media juga memiliki peran dalam memastikan jurnalis mendapatkan pembekalan dan perlindungan yang memadai ketika ditugaskan ke wilayah berisiko. Sebab, tugas jurnalis memang menghadirkan informasi dari tempat kejadian. Namun, keselamatan orang yang berada di balik informasi tersebut tidak boleh dikesampingkan.

Nah, peliputan di wilayah bencana memang menuntut keberanian dan kesiapan jurnalis dalam menghadapi berbagai kondisi di lapangan. Namun, keselamatan tetap harus menjadi bagian utama dari setiap penugasan. Sebab, tidak ada berita yang seharga dengan nyawa.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Titik Nurmalasari)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X