Pakar Ungkap Proyeksi Rupiah hingga Akhir 2026

24 September 2026 12:41

Jakarta: Lead Economist Danamon Irman Faiz memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan rupiah masih berpotensi melemah dari posisi saat ini di tengah tekanan eksternal.

Rupiah Diproyeksi Melemah

Irman mengatakan stabilitas rupiah tidak hanya dilihat dari level nilai tukar, tetapi juga volatilitasnya. Saat ini, volatilitas rupiah dalam 30 hari berada di sekitar 4,1 persen dan dinilai masih relatif stabil dibandingkan kondisi historis.

“Kalau kita lihat untuk nilai tukar itu stabilitasnya dinilai bukan dari level ya, tapi dari volatilitas. Nah, angka volatilitas nilai tukar 30 harian itu menunjukkan di level 4,1 persen,” kata Irman dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 24 September 2026.

Menurut Irman, tekanan terhadap rupiah ke depan lebih berpotensi mengarah pada pelemahan dibandingkan penguatan. Salah satu risikonya berasal dari kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

“Kalau kami melihat nilai tukar rupiah di akhir tahun itu ada di range Rp17.900 sampai dengan Rp18 ribu. Artinya memang relatif dari posisi sekarang itu kecenderungannya melemah,” ujarnya.

Tekanan The Fed

Irman menilai perekonomian AS masih cukup resilien meski The Fed telah menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan yang dapat memberikan tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.

“Kita lihat sebelum-sebelumnya itu kenaikannya cukup masif gitu ya belum cukup untuk membuat perekonomiannya melandai dan akhirnya inflasinya menuju target The Fed sebesar 2 persen,” ujarnya.

Menurutnya, pasar memperkirakan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga The Fed.

“Kita lihat sebagai risiko bahwa The Fed itu masih berpotensi untuk meningkatkan suku bunga acuan lagi yang mana sekarang market 70 persen probability-nya melihat di Oktober walaupun di dalam apa namanya dot plot perkiraan dari FOMC member committee itu mungkin akan di Desember. Jadi satu kali 25 basis poin lagi kenaikan itu hampir mungkin di tahun ini gitu. Ketika ini terjadi mungkin ini akan memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah termasuk negara-negara berkembang lainnya juga. Ini yang perlu direspon BI mungkin di kemudian hari,” kata Irman.

BI Berpotensi Naikkan Bunga

Irman mengatakan Bank Indonesia perlu menjaga perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS agar aset domestik tetap menarik bagi investor asing.

“Kita memang harus menjaga rate diferensial agar aset domestik itu tetap menarik,” ujarnya.

Irman menjelaskan kebutuhan menjaga selisih suku bunga semakin penting karena neraca transaksi berjalan Indonesia masih diperkirakan defisit. Kondisi tersebut membutuhkan arus modal asing untuk menutup kebutuhan valuta asing.

“Ini yang menjadi baseline kami ke depannya, kami melihat BI masih bisa menaikkan bunga dua kali 25 basis poin lagi untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil,” kata Irman.

Capital Inflow Jadi Perhatian

Irman menyebut arus modal asing ke Indonesia pada Agustus cukup baik. Namun, secara month to date, pasar saham masih mencatatkan net outflow, sementara arus masuk pada pasar obligasi relatif lebih baik.

“Kita melihat capital inflows kita cukup baik pada Agustus. Namun, secara month-to-date, pasar ekuitas kita masih net outflows. Memang ada dana masuk di pasar obligasi, tetapi secara neto total dana asing yang masuk ke pasar domestik relatif masih kurang memadai dibandingkan beberapa negara lain,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara seperti Korea dan Taiwan yang mendapat dukungan dari sentimen positif sektor teknologi dan siklus belanja modal artificial intelligence.

“Kalau inflows kita mostly di bonds karena memang relatif yield kita juga cukup menarik dan inflasi kita rendah,” ujarnya.

Irman juga menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi AS yang membuat selisih imbal hasil dengan obligasi Indonesia semakin sempit. Kondisi ini dapat membuat aset AS sebagai safe haven lebih menarik bagi investor.

“Tadi malam kita lihat dengan data-data makro yang cukup kuat di Amerika Serikat, yield obligasi Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi. Itu artinya spread antara yield obligasi kita dengan Amerika semakin sempit. Nah, itu membuat obligasi Amerika sebagai safe haven akan relatif lebih menarik ke depannya. Hal ini yang perlu kita perhatikan, sejauh mana supaya spread yang kita punya, terutama di bond market, tetap menarik dan mengundang modal asing,” katanya.

SRBI Bukan Lagi Senjata Utama

Terkait instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Irman menilai instrumen tersebut masih cukup efektif menarik modal asing. Namun, penggunaan SRBI mulai berkurang seiring strategi BI mendorong likuiditas rupiah di dalam negeri.

“SRBI cukup efektif namun mungkin penggunaannya bukan sebagai ultimate weapon lagi,” kata Irman.

Menurutnya, BI kini lebih mengandalkan insentif lindung nilai dan berbagai kebijakan untuk menarik arus modal asing masuk.

“Yang sekarang menjadi ultimate weapon adalah diskon hedging dan tadi insentif untuk menarik arus modal asing masuk,” ujarnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X