Konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta. Foto: Dok BI
Tahan BI-Rate 5,75%, Gubernur BI Yakin Stabilitas Terjaga
Eko Nordiansyah • 24 September 2026 10:10
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memandang tingkat BI-Rate yang saat ini tetap pada level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi (higher for longer).
“Kita tentunya melihat, kalau saat ini, kita masih menganggapnya cukup. Karena stabilitas kita bukan hanya dengan pre-emptive daripada BI-Rate itu, tapi juga penguatan di kebijakan terkait dengan insentif biaya hedging. Di satu sisi, kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi karena momentumnya lagi ada,” kata Destry pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 24 September 2026.
Destry mengatakan, ekonomi domestik saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik sehingga bank sentral Indonesia juga turut mendukung arah tersebut melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lainnya seperti pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.
“Ketidakpastian global di satu sisi. Di sisi lain untuk domestik, selain stabilitas yang tentu menjadi fokus kami saat ini, tapi juga kita harus bisa membuka ruang untuk ekonomi itu masih bisa bergerak lebih maju lagi,” kata dia.
Fundamental ekonomi RI cukup baik
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menambahkan bank sentral memilih untuk tidak menaikkan BI-Rate karena dapat berdampak pada kenaikan harga-harga di domestik.Secara keseluruhan, meski terjadi kenaikan harga minyak global, ia menilai fundamental ekonomi domestik saat ini masih cukup baik karena ditopang oleh permintaan dan konsumsi domestik serta investasi.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen.
“Dengan kondisi itu semua, kita ketahui kemarin PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal I sebesar 5,61 persen, kuartal kedua 5,29 persen, dan kami masih memperkirakan 2026 ini masih pada kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen, itu yang kami lihat. Jadi mudah-mudahan PDB-nya masih terus terjaga,” kata Aida.
(2).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Ia menambahkan inflasi domestik juga masih terjaga dalam sasaran target BI pada kisaran 2,5 plus minus satu persen atau rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.
“Artinya, kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5 persen, dan bahkan masih sekitar-sekitar 3 persenan,” kata Aida.
Pelemahan rupiah lebih dipengaruhi sentimen global
Dari sisi eksternal, meski defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 melebar ke 3,3 persen dari PDB, Aida mengatakan perkembangan terkini neraca perdagangan Indonesia sudah mulai positif kembali dan diharapkan dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 juga tetap terjaga, yakni sebesar USD146,5 miliar.Aida menambahkan yang memengaruhi pelemahan nilai tukar yaitu meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait dengan perkembangan harga minyak global dan ekspektasi suku bunga global.
Dengan berbagai perhitungan yang dipertimbangkan, bank sentral Indonesia memilih untuk memanfaatkan kebijakan non-suku bunga yaitu melalui peningkatan insentif biaya hedging untuk menarik arus masuk modal asing dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Instrumen swap dan DNDF, kemudian juga ada Local Currency Transaction (LCT), itu kita kita lakukan kembali dan kita perkuat dengan angka-angka yang semakin meningkat,” kata Aida.
Untuk diketahui, BI meningkatkan insentif instrumen swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment (FDI) melalui pengurangan premi dari semula 12,5 persen untuk semua tenor menjadi sebesar 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.
BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan FDI melalui pengurangan premi dari semula 15 persen menjadi sebesar 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.
Selain itu, BI melanjutkan pemberian insentif bagi transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa penambahan premi swap beli lindung nilai (swap jual lindung nilai kepada BI) sebesar 10 persen, serta pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.