Mengenal Janteloven, Hukum yang Bikin Orang Norwegia Enggan Pamer-World In Minute

Willy Haryono • 11 September 2026 14:02

Jakarta: Punya pencapaian besar biasanya menjadi sesuatu yang layak dirayakan. Namun, di Norwegia, cara seseorang menunjukkan keberhasilan justru bisa memengaruhi bagaimana ia dipandang orang lain. Terlalu sering memamerkan kekayaan, status, atau kehebatan diri bisa dianggap kurang pantas dalam budaya masyarakat setempat.

Salah satu alasan yang kerap dikaitkan dengan hal tersebut adalah Janteloven atau The Law of Jante. Istilah ini menggambarkan norma sosial yang menekankan kesetaraan dan kerendahan hati dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Apa Itu Janteloven?

Janteloven bukan hukum resmi yang dibuat pemerintah Norwegia. Istilah ini berasal dari karya sastra Denmark-Norwegia karya Aksel Sandemose dan kemudian digunakan untuk menggambarkan norma sosial di negara-negara Nordik. Salah satu gagasan utamanya adalah seseorang tidak seharusnya merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut dapat terlihat dari kecenderungan untuk tidak terlalu menonjolkan status, kekayaan, maupun pencapaian pribadi. Karena itu, tindakan yang di Indonesia mungkin dianggap sebagai bentuk berbagi pencapaian di media sosial, seperti memamerkan mobil mewah, barang mahal, atau kesuksesan tertentu, bisa mendapatkan respons berbeda dalam konteks budaya Norwegia.

Bukan berarti masyarakat Norwegia sama sekali tidak boleh menunjukkan pencapaian. Yang lebih ditekankan adalah bagaimana pencapaian tersebut disampaikan. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam budaya Nordik adalah understatement, yakni menyampaikan sesuatu secara lebih sederhana dan tidak berlebihan.

Misalnya, seseorang berhasil mencapai peringkat tinggi dalam sebuah permainan. Alih-alih membandingkan dirinya dengan orang lain atau merendahkan mereka yang belum mencapai level yang sama, pencapaian tersebut dapat diceritakan dengan menonjolkan proses dan perjuangan yang dilalui. Dengan begitu, fokusnya bukan sekadar pada “lihat apa yang sudah saya punya”, melainkan pada perjalanan hingga pencapaian tersebut diraih.

Bukan Berarti Flexing Dilarang Secara Hukum

Ada hal lain yang perlu dibedakan. Janteloven merupakan konsep norma sosial, bukan aturan hukum yang membuat seseorang bisa didenda hanya karena memamerkan kekayaan.

Namun, Norwegia memang memiliki aturan resmi terkait penggunaan gambar yang telah diedit atau dimanipulasi dalam pemasaran influencer. Sejak 2022, iklan tertentu yang menggunakan retouching atau manipulasi visual untuk mengubah bentuk tubuh atau ukuran seseorang wajib diberi penanda. Aturan tersebut ditujukan untuk meningkatkan transparansi dalam iklan dan mengurangi tekanan terkait standar tubuh yang tidak realistis.

 

Jadi, dua hal tersebut tidak sama. Janteloven berkaitan dengan norma dan budaya sosial, sedangkan aturan mengenai gambar yang dimanipulasi merupakan ketentuan hukum dalam konteks pemasaran.

Nah, dari sini terlihat bahwa cara menunjukkan pencapaian ternyata tidak selalu dipandang sama di setiap negara. Kalau di satu tempat flexing bisa dianggap sebagai bentuk perayaan, dalam budaya Norwegia, sikap yang lebih sederhana dan tidak menempatkan diri di atas orang lain justru lebih selaras dengan nilai kesetaraan yang dijunjung.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X