18 September 2026 11:53
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut telah membayarkan anggaran subsidi dan kompensasi sebesar Rp331,4 triliun hingga akhir Agustus untuk menjaga kelancaran arus kas BUMN penyedia energi dan menopang pergerakan ekonomi masyarakat. Realisasi pembayaran tersebut melonjak lebih dari Rp100 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp218 triliun.
“APBN telah membayarkan Rp331 triliun kepada PLN dan Pertamina yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu sampai dengan akhir Agustus yang sudah dibayarkan ke PLN, Pertamina itu Rp218 triliun, tahun ini sampai dengan Agustus yang sudah dibayarkan itu Rp331 triliun, Rp100 triliun lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ungkap Suahasil dalam tayangan Breaking News Metro TV, Jumat, 18 September 2026.
Penyaluran kompensasi dan subsidi tersebut kini dilakukan secara rutin setiap bulan kepada PLN dan Pertamina. Skema pembayaran bulanan ini diterapkan untuk memberikan keleluasaan arus kas (cash) bagi PLN dan Pertamina dalam menyediakan barang-barang yang harganya diatur oleh pemerintah.
Pemerintah menjelaskan bahwa langkah pembayaran berkala ini sangat penting untuk memastikan ketersediaan pasokan barang bersubsidi di tengah masyarakat.
"Realisasi subsidi dan kompensasi sudah kita bayarkan Rp331,4 triliun dan pembayaran kompensasi itu sekarang dilakukan bulanan dan pembayaran subsidi juga dilakukan bulanan kepada PLN dan Pertamina. Ini tentu kita maksudkan supaya PLN dan Pertamina memiliki keleluasaan cash supaya bisa terus menyediakan barang-barang yang memang harganya diatur oleh pemerintah," ujar Suahasil.
Baca Juga :
Dukungan anggaran dari APBN ini berdampak langsung pada peningkatan penggunaan barang-barang bersubsidi oleh masyarakat. Peningkatan konsumsi tersebut menjadi indikator bahwa roda perekonomian nasional terus bergerak.
Secara terperinci, volume penggunaan BBM tercatat mengalami kenaikan sebesar 8,8 persen, sedangkan volume LPG naik 2,6 persen. Peningkatan juga terjadi pada jumlah pelanggan listrik bersubsidi sebesar 2,1 persen, volume pupuk bersubsidi yang melonjak 23 persen, serta jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tumbuh 5,9 persen.
Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan konsumsi di berbagai sektor strategis tersebut berjalan seiring dengan komitmen alokasi anggaran yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
"Barang-barang yang mendapatkan subsidi harga itu terjadi peningkatan penggunaan oleh masyarakat. Jadi masyarakat, karena itulah ekonomi masyarakat kita itu terus bergerak. Volume BBM naik 8,8 persen, volume LPG naik 2,6 persen, pelanggan listrik bersubsidi untuk tarif bersubsidi 2,1 persen, volume pupuk naik 23 persen, debitur KUR jumlah juta debiturnya naik 5,9 persen. Ini yang saya maksud tadi ekonominya berjalan terus," tegas Suahasil.