25 September 2026 11:41
Pati: Bencana kekeringan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 56 desa di 11 kecamatan kini mengalami krisis air bersih.
Dampak kemarau panjang salah satunya dirasakan warga Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo. Mereka rela mengantre dengan membawa ember, galon, hingga jeriken demi mendapatkan bantuan air bersih. Pasalnya, sumur warga dan aliran sungai setempat telah mengering total.
Seorang warga Desa Maitan, Partini, mengungkapkan krisis air di desanya sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Sebelum ada pasokan bantuan, warga terpaksa merogoh kocek pribadi untuk membeli air bersih.
"Sudah tiga bulan (kering). Sehari ya habis sekitar Rp10 ribu, karena untuk 1.000 liter air harganya Rp80 ribu dan itu cuma cukup buat seminggu. Biayanya ditanggung sendiri-sendiri, tidak patungan," tutur Partini, dikutip dari tayangan Headline News Metro TV, Jumat, 25 September 2026.
Berdasarkan data BPBD Pati, wilayah yang paling parah terdampak kekeringan berada di Kecamatan Jakenan, Jaken, dan Pucakwangi. Warga di wilayah tersebut kini sangat bergantung pada pasokan air bersih yang dikirim pemerintah.
Kepala BPBD Pati Marthinus Budi Prasetya mengatakan wilayah terdampak kekeringan terus bertambah. Lebih dari 10 kecamatan kini telah mengalami dampak kekeringan.
"Ya, sampai hari ini kondisi kekeringan di wilayah kabupaten juga semakin luas. Sudah lebih dari 10 kecamatan terdampak," kata Marthinus.
Marthinus menyebut wilayah utara Pati juga mulai mengalami kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti.
"Dan bahkan kemarin desa di wilayah utara, tepatnya di Kecamatan Dukuhseti, Desa Ngagel, itu sudah mulai kekurangan air," ujarnya.
Kekurangan air bersih juga mulai dirasakan sejumlah desa di Kecamatan Batangan, yakni Desa Pecangaan, Klayusiwalan, dan Tlogomojo.
BPBD Pati memastikan penanggulangan terus dilakukan melalui distribusi bantuan air bersih secara berkala ke wilayah yang paling membutuhkan.