Jakarta: Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 lalu bukan sekedar catatan aktivitas tektonik saja. Bagi masyarakat yang mengalaminya, guncangan itu berarti kehilangan, ketakutan sekaligus perjuangan untuk bangkit. Dan ketika bencana terjadi, pemulihan tidak bisa menunggu.
Rentetan gempa di NTT
Pada 12 November 2004 di wilayah Alor, diguncang gempa berkekuatan 6,5 magnitude dan kedalaman sekitar 37 km. Gempa ini menimbulkan kerusakan dan juga korban jiwa. Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah Alor memang memiliki rekam jejak kegempaan yang signifikan.
Kemudian selanjutnya pada 30 Desember 2016, gempa kembali mengguncang kawasan Sumba. Kekuatannya 6,2 magnitude dengan kedalaman 98 km.
BMKG saat itu menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Dua peristiwa ini menunjukkan satu hal, aktivitas tektonik di NTT bukan fenomena yang baru.
Memasuki tahun 2021, intensitas kegempaan kembali meningkat. Tepatnya pada 14 Desember 2021. Laut Forest diguncang gempa berkekuatan 7,4 magnitude dengan kedalaman sekitar 10 km. Gempa kali ini dipicu aktivitas sesar dan sempat menimbulkan peringatan dini tsunami. BMKG kemudian mengakhiri peringatan tersebut.
Selanjutnya di tanggal 25 Januari 2024, wilayah laut sekitar Mbai kembali guncang gempa berkekuatan 5,6 magnitude. Artinya dalam rentang waktu beberapa tahun wilayah NTT ini berulang kali mengalami gempa dengan kekuatan yang cukup signifikan.
Dan catatan ini belum berakhir. Pada 2026, kawasan Mbai ini kembali menjadi salah satu titik aktivitas gempa besar dengan kekuatan yang tercatat mencapai 7,5 magnitude. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa NTT berada di kawasan yang sangat aktif secara tektonik. Yang dapat kita lakukan adalah membaca data, memahami resiko dan juga memperkuat kesiap-siagaan.
Jumlah pengungsi gempa
Dampak gempa tidak berhenti ketika guncangan ini mereda. Ribuan warga masih harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Per 18 Agustus 2026.
Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak mencapai 15,465 orang. Manggarai dengan 6,487 orang, Nagekeo 6,221 orang dan Sikka 5,681 orang. Yang perlu menjadi perhatian di wilayah Manggarai Timur, 960 orang masih berada di posko pengungsian. Sementara 14,499 lainnya mengungsi secara mandiri.
Artinya kebutuhan masyarakat bukan hanya soal tempat berindung saja. Mereka juga membutuhkan makanan, kemudian air bersih, layanan kesehatan serta kepastian untuk bisa kembali ke rumah dengan aman. Inilah wajah nyata dari dampak bencana. Ribuan orang harus meninggalkan kehidupan mereka untuk sementara waktu.
Jumlah rumah rusak akibat gempa
Persoalan berikutnya adalah tempat tinggal. Gempa tidak hanya membuat warga mengungsi tetapi juga merusak rumah yang selama ini menjadi tempat mereka berlindung. Per 18 Agustus di Nagekeo tercatat ada 1.373 rumah rusak berat, 260 rusak sedang, dan 1.229 rusak ringan.
Sementara di Manggarai Barat terdapat 1.196 rumah rusak berat, 546 rusak sedang, dan 1.085 rusak ringan. Angka ini menunjukkan bahwa proses pemulihan bukan pekerjaan yang singkat. Ada rumah yang harus diperbaiki. Ada juga yang harus dibangun kembali. Dan ada keluarga yang harus menunggu agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Karena bagi warga terdampak pemulihan bukan sekedar membangun kembali rumah. Tapi membangun kembali rasa aman dan kehidupan mereka.
Data kerusakan akibat gempa di wilayah lainnya. Di wilayah Kabupaten Ngada tercatat ada 1.133 unit rumah mengalami kerusakan ringan. Sementara 465 unit rumah rusak sedang dan 698 unit lainnya rusak berat. Sementara di Kabupaten Manggarai terdapat jumlah yang jauh lebih besar. Ada sebanyak 1.597 unit rumah rusak berat, 263 rusak sedang, dan juga 123 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi untuk di wilayah lain di NTT yaitu di wilayah Ende dan juga wilayah-wilayah lainnya.
Perbaikan rumah korban gempa
Terkait dengan perbaikan rumah korban gempa yang terjadi pemerintah telah menyiapkan ada skema bantuan. Ini sesuai dengan tingkat kerusakan. Ini di saat yang terakhir gimana untuk rumah dengan kerusakan ringan bantuan yang diberikan sebesar Rp15 juta. Kemudian untuk kerusakan sedang bantuan ini senilai Rp30 juta.
Sementara untuk yang rusak berat atau hancur akan dilakukan pembangunan hunian tetap. Diharapkan bantuan ini dapat segera meningankan korban dan juga mempercepat proses pemulihan di wilayah terdapat. Kita doakan dan juga dukung bersama agar saudara kita di pengungsian ini dapat segera pulih dan kembali bangkit.
Sumber: Redaksi Metro TV