Mengenal Child Grooming, Isu yang Diangkat Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

14 January 2026 18:17

Jakarta: Istilah child grooming kembali menjadi sorotan publik. Bentuk kekerasan ini kerap tidak disadari di awal karena dibungkus dengan perhatian, rasa aman, dan kasih sayang palsu. Isu tersebut diangkat secara terbuka oleh aktris Aurelie Moeremans melalui bukunya berjudul Broken Strings, yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya saat berusia 15 tahun.
 

 

Apa itu Child Grooming?

Melansir laman Alodokter, Child grooming merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa terhadap anak atau remaja dengan tujuan membangun kedekatan emosional, kepercayaan, dan ketergantungan. Proses ini biasanya berlangsung perlahan dan tidak langsung tampak sebagai kekerasan, sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.

Child grooming sering kali dilakukan dengan pola yang serupa. Pelaku memberi perhatian berlebih, bersikap seolah menjadi sosok yang paling memahami korban, membuat anak merasa istimewa, lalu secara perlahan menjauhkan korban dari keluarga dan lingkungan terdekatnya. Praktik ini dapat terjadi secara langsung maupun melalui media sosial.

Dalam buku Broken Strings, Aurelie Moeremans menceritakan pengalamannya mengalami child grooming oleh seseorang yang usianya hampir dua kali lebih tua. Pendekatan yang digunakan bukan kekerasan fisik, melainkan manipulasi emosional dan kontrol psikologis yang terjadi secara bertahap. Buku ini ditulis dari sudut pandang korban, tanpa romantisasi, dan menggambarkan proses panjang untuk menyadari kekerasan serta berusaha menyelamatkan diri.

Kasus-kasus child grooming juga ditandai dengan sejumlah perubahan perilaku pada korban. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kedekatan intens dengan orang dewasa yang jauh lebih tua, sering membicarakan satu sosok tertentu secara berlebihan, menarik diri dari keluarga dan teman sebaya, serta menerima hadiah yang tidak wajar tanpa alasan jelas.

Dampak Child Grooming

Dampak child grooming tidak berhenti ketika relasi tersebut berakhir. Korban dapat mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur dan konsentrasi, trauma emosional jangka panjang, hingga kesulitan membangun relasi yang sehat saat dewasa. Dalam banyak kasus, luka psikologis baru disadari bertahun-tahun kemudian.
 

Kisah yang diangkat Aurelie Moeremans menjadi pengingat penting bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Child grooming dapat terjadi secara diam-diam, di lingkungan terdekat, dan tanpa disadari oleh korban maupun orang sekitarnya.

Melalui edukasi, peningkatan kesadaran tentang relasi yang sehat, serta ruang aman bagi penyintas untuk bersuara, risiko terjadinya child grooming dapat diminimalkan. Melindungi anak tidak hanya soal pengawasan, tetapi juga memahami tanda-tanda kekerasan yang kerap tersembunyi.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Calista Vanis)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)