Negosiasi di Washington, Lebanon Tegas Tolak Pendudukan Israel Atas Wilayahnya

24 June 2026 17:12

Pemerintah Lebanon secara tegas menolak pendudukan Israel yang masih berlangsung di wilayahnya. Dalam putaran baru negosiasi yang melibatkan Lebanon, Amerika Serikat, dan Israel di Washington, pemulihan kedaulatan nasional penuh menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar.

Pernyataan keras tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Lebanon, Joseph Aoun, pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa Lebanon tidak akan menerima hasil kesepakatan apa pun kecuali berakhirnya pendudukan Israel dan penghapusan seluruh bentuk pengawasan pihak eksternal terhadap wilayah mereka.

Delegasi Lebanon saat ini telah kembali berpartisipasi dalam dialog di Washington. Kedutaan Besar Israel di Amerika Serikat juga mengonfirmasi bahwa putaran baru perundingan telah dimulai. Proses komunikasi ini direncanakan akan terus berlanjut melalui dua jalur utama, yakni jalur diplomatik dan jalur militer.

Seiring dengan berlangsungnya dialog dan gencatan senjata, warga Lebanon selatan yang sebelumnya mengungsi kini mulai berbondong-bondong pulang ke rumah mereka masing-masing. Kepadatan lalu lintas dilaporkan terjadi di jalan raya selatan Beirut pada Selasa.
 

Baca juga: Penyelidikan PBB Sebut Israel Lakukan Genosida dengan Menargetkan Anak-anak Gaza

Kepulangan warga ini terjadi setelah pertempuran antara Israel dan Hizbullah dihentikan pada akhir pekan lalu. Momentum penghentian kontak senjata ini bertepatan dengan adanya dialog kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss.

Meski negosiasi di Washington sedang berjalan, muncul dinamika politik di dalam negeri Lebanon. Sejumlah warga mengklaim bahwa dialog yang dilakukan oleh Iranlah yang sebenarnya berhasil menghentikan perang, dan mereka menyatakan keberatan jika pemerintah Lebanon melanjutkan dialog tersebut.

Situasi ini dimanfaatkan oleh Hizbullah beserta para pendukungnya sebagai bukti untuk mengkritik pendekatan diplomatik pemerintah Lebanon yang mereka nilai tidak tepat dalam menangani konflik tersebut.

(Anggie Meidyana)


Close Ads X
Close Ads X