Jakarta: Di bawah kepemimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, masyarakat punya harapan besar supaya makan bergizi gratis (MBG) bisa bertransformasi lebih baik. Ada beberapa hal baru yang dilakukan untuk perbaikan program ini.
Moratorium dan penataan SPPG
Saat ini ada moratorium yang dilakukan. Dan dilakukan pula penataan ulang SPPG untuk membuka ruang dari dana non-APBN. Ini adalah salah satu yang diwacanakan dan sudah diimplementasikan. Moratorium artinya tidak ada lagi
SPPG baru yang dibuka. Tapi ada penataan ulang dari sisi basis data setiap SPPG dan juga penerima manfaatnya. Kemudian skema pembayarannya atau pembiayaan alternatif juga disiapkan. Ada tiga opsi baru. Yang pertama adalah dari dana CSR, kemudian dana Hibah dan juga dukungan dari pihak swasta.
Ini adalah langkah-langkah yang dilakukan supaya skema pembiayaan itu tidak memberatkan APBN. Jadi dibukalah salah satu celah atau ruang baru dana yang berasal dari non-APBN pemirsa.
Perubahan prioritas penerima manfaat
Moratorium dan juga penataan ulang itu difokuskan ke beberapa hal lain. Yang pertama, fokus daerah 3T dan juga pelibatan kantin sekolah jadi salah satu terobosan baru yang dilakukan di bawah kepemimpinan BGN yang baru. Daerah tertinggal, terluar, terpencil dan juga ada pelibatan lebih aktif lagi untuk kantin sekolah. Ini dilakukan supaya kualitas yang mau dicapai nanti bisa lebih baik lagi. Kemudian ada penyesuaian kelompok siswa, siswa SMA berpotensi tidak jadi prioritas. Nanti akan diatur ulang kembali siapa yang akan menjadi penerima manfaat dari program makan bergizi gratis ini.
Kualitas jadi prioritas
Jika sebelumnya yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana supaya bisa membangun banyak sekali titik-titik SPPG bisa menjangkau masyarakat-masyarakat yang ada di berbagai wilayah yang ada di Indonesia sekarang diganti. Menjadi lebih mementingkan bagaimana kualitas makanan. Karena kita tahu beberapa kali terjadi sejumlah masalah pada saat pembagian makanan dari program MBG ini. Sekarang akan diperhatikan lebih baik lagi kualitas makanannya. Ini yang jadi prioritas.
Kemudian juga tidak kalah penting adalah SDM. Sumber daya manusia juga ikut dievaluasi, diadakan pelatihan khusus untuk orang-orang yang nanti akan terlibat di dalam pelayanan MBG.
Dan juga memasukkan ahli gizi, kemudian orang-orang yang lebih profesional untuk program makan bergizi gratis.
Kemudian juga yang tidak kalah penting adalah dengan mengevaluasi bagaimana dapur yang tidak memenuhi standar operasional alias SOP ini harus didata ulang dan dipastikan tidak ditemukan lagi untuk di tiap titik-titik SPPG yang akan ada ke depannya.
Pembentukan dewan pengarah khusus
Selanjutnya satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah soal pembentukan Dewan Pengarah Khusus. Nanti akan ada di dalam program ini ada Profesor Ahli Gizi, Profesor Anak dan juga ada Dokter Anak. Mengapa banyak Profesor Anak dan Dokter Anak yang dilibatkan? Karena program MBG menyasar pada anak-anak, kemudian ahli gizi tentu sangat penting bagaimana dengan asupan gizi yang harus dipenuhi bagi para penerima manfaat dari program makan bergizi gratis ini.
Mudah-mudahan dalam kepemimpinan baru ini program MBG bisa bertransformasi menjadi lebih baik sesuai dengan ekspektasi masyarakat.