.,
8 January 2026 18:13
Dua bulan lebih pasca banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, sejumlah desa di Kecamatan Linge masih terisolir akibat putusnya akses jalan dan jembatan utama. Hampir 2.000 jiwa di lima desa tersebut kini hanya dapat mengandalkan jembatan darurat yang dibangun secara swadaya bersama aparat Polri sebagai satu-satunya jalur menuju Kota Takengon.
Jembatan darurat Kalaili menjadi akses satu-satunya, setelah jembatan utama di lokasi itu terputus total. Sebelum adanya jembatan tersebut, warga hanya menggunakan rakit sederhana buatan sendiri, yang rekamannya sempat viral karena sangat membahayakan keselamatan.
Pembangunan jembatan darurat dilakukan secara gotong-royong oleh warga, dibantu Polres Aceh Tengah, Polsek Linge, hingga personel Brimob Polda Aceh. Pemasangan seling bahkan juga dibantu oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mempercepat akses daerah-daerah terisolir.
Namun, kondisi jembatan darurat Kalaili tetap berisiko, terutama bagi warga yang mengangkut logistik bantuan. Aparat kepolisian pun masih berjaga untuk memastikan dan membantu aktivitas penyeberangan agar berjalan aman.
Kapolsek Linge, Iptu Aidil Novrizal menjelaskan bahwa sebelum jembatan darurat dibuat, warga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil, sejumlah warga sudah jatuh dan hampir hanyut terbawa arus. Ia menyebut kehadiran jembatan darurat sangat membantu distribusi bantuan maupun pengiriman hasil bumi dari lima kampung yang hingga kini belum bisa dilalui kendaraan roda empat.
Seorang warga setempat mengatakan bahwa kendala utama sejak banjir adalah akses jalan yang rusak parah, “Alhamdulillah kalau kondisi masyarakat sehat-sehat, tapi ada beberapa hal sejak banjir kemarin. Yang menjadi kendala bagi kita adalah akses jalan," kata Aidil.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para relawan dan jajaran Polri yang telah membantu pembangunan jembatan apung sehingga akses warga mulai terbuka kembali.