Diduga Kelelahan Bekerja Melebihi Jam Kerja, Dokter Magang di Jambi Meninggal Dunia

5 May 2026 11:51

Jakarta: Seorang dokter muda bernama Myta Aprilia Azmy meninggal dunia diduga akibat kelelahan saat menjalani tugas sebagai dokter magang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.

Sebelumnya, Myta sempat mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Mohammad Hoesin, Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel). Namun, pada Jumat, 1 Mei 2026, ia dinyatakan meninggal dunia.

Kepergian Myta meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan-rekan sejawatnya. Ia dikenal sebagai sosok yang berdedikasi dan bertanggung jawab bahkan banyak pihak yang berharap ia dapat segera menyelesaikan masa magang dan menjadi dokter umum.

"Beliau ini memang jadi tumpuan, diharap-harapkan tidak lama lagi akan menyelesaikan profesinya sebagai dokter magang dan menjadi dokter umum," ujar Keluarga dr. Myta, Febri Mahardika, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa, 5 Mei 2026. 

Akibat peristiwa ini, kondisi Myta selama menjalani program magang kini menjadi sorotan publik. Perhatian terhadap kasus ini semakin meningkat setelah Pengurus Besar Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran (IKA FK) Universitas Sriwijaya (UNSRI) mengirimkan surat resmi kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 30 April 2026.

Dalam surat tersebut, IKA FK UNSRI menyampaikan sejumlah temuan yang dinilai mengkhawatirkan terkait kondisi kerja dokter magang di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, yang merupakan tempat penugasan almarhumah dr. Myta.

Cerita orang tua Myta terkait kondisi korban saat internhip

Ibu korban, Okta Yusri, mengungkapkan bahwa selama menjalani program magang di RSUD KH Daud Arif, Myta kerap mengeluhkan rasa lelah akibat harus bekerja hingga larut malam.

"Selama ini dia sering bercerita bahwasanya kalau kerja memang capek katanya, perginya pagi pulangnya sudah larut malam," ungkap Okta.

Okta menyebut terakhir kali menghubungi sang anak saat hari ulang tahunnya untuk menanyakan kabar. Saat itu, Myta diketahui sedang diinfus ketika bertugas menjaga Instalasi Gawat Darurat (IGD).
 

Baca Juga: Eks Finalis Putri Indonesia Riau Ditangkap, Diduga Jadi Dokter Gadungan

"Waktu itu komunikasi terakhir kebetulan tanggal 13 April dia ulang tahun lagi jaga di IGD. Ditanya 'Myta lagi jaga nak ya'(dijawab) 'Iya bu, Myta lagi diinfus' katanya di ruang jaga dokter," jelas Okta.

Orang tua korban mulai merasa kejanggalan ketika Myta tidak bisa dihubungi selama beberapa jam, sehari setelah ulang tahunnya. Setelah menghubungi rekannya, diketahui bahwa Myta saat itu masih menjalankan tugas dalam kondisi linglung.

"Besoknya saya telepon engga bisa dihubungi, kami pikir istirahat karena dari jaga malam. Besoknya dihubungin lagi terus sudah ada ngechat tapi hurufnya sudah enggak jelas. Saya hubungi temannya, rupanya dia sudah di bawah mau jaga di IGD katanya dalam keadaan sudah tidak sadar," ungkap Okta. 

Ketentuan beban kerja dokter magang

Sementara itu, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama menyampaikan, terdapat empat laporan dokter magang yang meninggal dunia akibat kondisi tempat kerja mereka dalam tiga bulan terakhir. Termasuk Myta. 

Tjandra menjelaskan bahwa standar jam kerja dokter jaga idealnya adalah delapan jam per hari atau 40 jam per minggu. Umumnya, jadwal jaga dibagi menjadi tiga shift, yaitu pagi hingga siang, siang hingga sore, dan sore hingga malam.

Menanggapi cerita dari ibu Myta, ia mengaku cukup heran karena Myta disebut harus bekerja sejak pagi hingga malam hari. Karena baginya kondisi tersebut sudah tidak wajar. 

"Tadi kita dengar dari Ibu dr. Myta, almarhumah katanya pergi pagi pulang malam. Saya tidak tahu berapa jauh jarak antara rumah sakit dengan tempat kosnya, tapi harusnya kalau pagi jam 07.00 maka sekitar jam 15.00 atau 16.00 sudah selesai bekerjanya," tutur Tjandra. 

Lebih lanjut, Tjandra menjelaskan bahwa program magang bertujuan memberikan gambaran nyata terkait kerja dokter di lapangan sebagai lanjutan dari pendidikan akademik. Sekaligus sebagai syarat untuk memperoleh sertifikat setelah menyelesaikan masa magang.

"Tujuan pertama semacam adaptasi dari pendidikan akademik menjadi kegiatan langsung di lapangan. Itu yang dia kerjakan sehari-hari. Tapi di sisi lain ada semacam sertifikat untuk selesai magang itu," ujar Tjandra.

Oleh sebab itu, Tjandra mendukung dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program magang di RSUD KH Daud Arif untuk mengungkap penyebab pasti di balik kematian Myta.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)