Guru Besar IPB Soroti Kelalaian Korporasi Jadi Akar Masalah Karhutla

22 October 2026 13:45

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap tebal terus berulang setiap tahunnya, membawa dampak buruk bagi kesehatan warga dan roda perekonomian. Anggaran triliunan rupiah dan berbagai skema pencegahan dinilai belum mampu menuntaskan akar masalah, terutama pada ekosistem lahan gambut di Indonesia.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Bambang Hero Saharjo, mengungkapkan bahwa fenomena karhutla merupakan kombinasi dari rusaknya ekosistem dan campur tangan manusia. Menurutnya, kebakaran tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa pemicu alam yang spesifik, seperti petir atau lahar gunung berapi.

Dalam penelusurannya, Prof. Bambang menemukan fakta bahwa kelalaian korporasi menjadi salah satu penyumbang utama meluasnya karhutla. Berdasarkan compliance audit yang pernah ia lakukan, banyak korporasi maupun pemerintah daerah yang abai terhadap regulasi pengelolaan karhutla.

"Berdasarkan data dan fakta di lapangan, baik di Sumatera, Kalimantan, maupun Sulawesi, banyak korporasi yang tidak memenuhi kewajiban penyediaan sarana dan prasarana pemadaman. Ketiadaan fasilitas ini berujung pada pembiaran. Padahal, karena ini perbuatan manusia, sejak awal api itu bisa dicegah dan dikendalikan," tegas Prof. Bambang, dalam dialog Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Kamis 22 Oktober 2026.
 



Penanganan menjadi semakin rumit ketika api menyebar di lahan gambut. Prof. Bambang menjelaskan, gambut yang pada dasarnya menyukai air akan berubah sifat tidak bisa menyerap air ketika kondisinya sudah mengering akibat kerusakan ekosistem. Terlebih, sisa-sisa kayu tebangan di masa lalu yang terpendam di dalam gambut membuat api bertahan di bawah permukaan dengan suhu yang bisa menembus 1.000 derajat Celcius.

Kondisi ekstrem ini juga membuat upaya pemadaman berbasis teknologi, seperti Teknologi Modifikasi Cuaca dan water bombing, kerap tidak efektif.

"Air dari bambi bucket itu turun seperti butiran hujan tanpa pemberat. Sering kali, belum sampai ke permukaan, airnya sudah terevaporasi. Selain itu, jatuhnya air kerap terganggu arah dan kecepatan angin sehingga tidak tepat sasaran ke titik api. Mengingat besarnya anggaran untuk menyewa puluhan helikopter, efektivitas metode ini perlu dievaluasi kembali," jelasnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X