Jakarta: Membuka keran dan mendapatkan air bersih mungkin terasa seperti hal yang sederhana. Namun, kondisi tersebut bisa berubah ketika persediaan air mulai menipis akibat kemarau panjang. Situasi inilah yang perlu diantisipasi masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang puncak musim kemarau pada September 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada September 2026. Tak hanya menghadapi cuaca yang lebih panas dan minim hujan, sejumlah daerah juga berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan kategori Awas hingga Siaga.
Wilayah yang Berpotensi Mengalami Kekeringan
BMKG membagi tingkat potensi
kekeringan meteorologis ke dalam beberapa kategori. Semakin tinggi kategorinya, semakin besar pula potensi dampak kekeringan yang perlu diantisipasi.
1. Kategori Awas
Kategori Awas merupakan tingkat peringatan dini tertinggi. Kondisi ini menunjukkan potensi ancaman
kekeringan yang sangat tinggi dan dapat berdampak serius.
Wilayah yang diprediksi masuk kategori Awas meliputi:
- Bangka
- Belitung
- Banten
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Daerah Istimewa Yogyakarta
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara
- Kalimantan Selatan
- Sulawesi Selatan
- Maluku
2. Kategori Siaga
Sementara itu, kategori Siaga ditandai dengan warna oranye. Potensi
kekeringan kategori ini diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, yaitu:
- Sumatera bagian selatan
- Jawa bagian barat
- Jawa bagian tengah
- Sebagian wilayah Sulawesi
- Sebagian besar Kalimantan
- Maluku
- Bagian selatan Papua
3. Kategori Waspada
Adapun kategori Waspada ditandai dengan warna kuning. Wilayah yang diprediksi mengalami kondisi ini meliputi:
- Kalimantan bagian tengah
- Kalimantan bagian utara
- Sebagian wilayah Sulawesi
- Sebagian wilayah Maluku
- Papua bagian selatan
Menghadapi potensi
kekeringan tersebut, masyarakat diimbau mulai melakukan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya dengan menggunakan air secara bijak dan mengurangi pemborosan, terutama ketika persediaan air di lingkungan mulai berkurang.
Selain
persoalan ketersediaan air, cuaca panas juga perlu menjadi perhatian. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, terutama ketika kondisi cuaca terasa sangat panas. Kebutuhan cairan tubuh juga perlu tetap diperhatikan agar tubuh tidak mengalami kekurangan cairan.
Langkah sederhana seperti menghemat air, menggunakan air sesuai kebutuhan, dan mempersiapkan persediaan untuk kebutuhan penting dapat membantu masyarakat menghadapi periode kemarau dengan lebih baik.
Nah, puncak
musim kemarau memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diantisipasi sejak sekarang. Dengan menghemat air dan menyesuaikan aktivitas selama cuaca panas, masyarakat dapat ikut mengurangi risiko yang muncul akibat kekeringan. Jadi, sudah siap menghadapi puncak kemarau September 2026?
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)