20 September 2026 16:10
Indonesian Cultural Exhibition yang digelar di Kuil Ninna-ji Kyoto, Jepang, memamerkan batik, seni rupa, tari, hingga gamelan. Bukan sekadar lembaran kain biasa, pameran ini memboyong koleksi langka batik-batik lawas, mahakarya yang dibuat dengan kesabaran luar biasa oleh para perajin era kolonial dan kerajaan yang menyimpan cerita tentang identitas dan kosmologi masyarakat Jawa pada masa lalu.
Batik-batik kuno tersebut adalah benda langka yang selamat dari lintasan sejarah. Menampilkannya di Kyoto memberi ruang dialog antara dua budaya yang sangat menghormati seni kriya dan warisan leluhur.
Tak hanya goresan cantik pada lembaran mori, eksibisi ini kian megah dengan hadirnya karya para maestro seni lukis Indonesia. Lihat saja bagaimana sang maestro ekspresionis seperti Affandi, Hendra, Dullah, Lee Man Fong, dan pelukis muda lainnya menerjemahkan dinamika kehidupan dan budaya lokal lewat lelehan cat jemarinya yang penuh tenaga.
Sebelumnya, koleksi batik ini sudah pernah dipamerkan selama satu bulan di Tokyo pada April lalu. Sekitar 2.000 pengunjung mendatangi pameran tersebut.
Tak hanya tertarik pada keindahan motif dan warna batik saja, tetapi masyarakat Jepang juga mulai memahami proses pembuatan batik yang rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi. Keberhasilan pameran di Tokyo menjadi langkah awal untuk memperkenalkan batik lebih luas di Jepang.