30 July 2026 20:38
Anak-anak di Desa Sikundo, Kabupaten Aceh Barat harus bertaruh nyawa meniti jembatan tali demi bisa bersekolah. Para guru turut mendampingi anak didik mereka melawan rasa takut saat meniti satu-satunya akses menuju sekolah itu.
Tangan-tangan dan kaki-kaki kecil para siswa ini meniti jembatan tali baja di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Perjuangan ke sekolah mereka harus ditempuh dengan jarak yang jauh dan akses yang sulit.
Namun, semangat belajar anak-anak ini tidak pernah padam. Setiap harinya bersama para guru, anak-anak bertaruh nyawa meniti jembatan tali untuk mencapai sekolah. Di bawahnya mengalir sungai yang deras.
“Ya agak banyak rintangan kayak gitu. Karena kami harus mengajar di sebelah sana, karena dikondisikan sekolah masih dalam renovasi. Kalaupun kami sekolah di sini, ya itulah kendala yang di sebelah sana anak-anak kan. Kami harus nekat, maksudnya mengejar anak-anak yang di sebelah sana,” ujar guru di Aceh Barat, Ruqiah dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 30 Juli 2026.
Sebelumnya ada jembatan gantung yang menjadi urat nadi akses menuju sekolah dan permukiman, namun jembatan itu hanyut diterjang banjir bandang pada November 2025 lalu. Sejak saat itu, jembatan tali baja sepanjang sekitar 150 meter ini menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan Dusun Salah Sare dan Dusun Durian.
Meskipun penuh risiko, para guru dan siswa tetap melintasi jembatan tali ini setiap hari karena tidak ada jalan lain untuk mencapai sekolah. Hingga kini warga masih menantikan pembangunan kembali jembatan permanen, dan berharap tidak ada lagi yang harus mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan hak dasar atas pendidikan.