17 September 2026 11:30
Jakarta: Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan, termasuk dalam bidang kesehatan. Salah satu penerapannya terjadi dalam operasi tumor otak di Inggris, ketika teknologi AI digunakan secara langsung untuk membantu tim dokter mengidentifikasi bagian penting di sekitar tumor.
Seorang pria bernama Rhys Hibbert, 48 tahun, asal Bedfordshire, Inggris, menjadi pasien pertama di dunia yang menjalani prosedur pengangkatan tumor otak dengan bantuan teknologi AI secara real time. Operasi tersebut dilakukan pada Mei 2026 di National Hospital for Neurology and Neurosurgery (NHNN), bagian dari University College London Hospitals (UCLH).
Hibbert sebelumnya bekerja sebagai manajer layanan pelanggan dan dikenal memiliki gaya hidup sehat serta aktif. Namun, pada Desember 2024, ia mendadak pingsan dan mengalami kejang saat sedang berjalan kaki.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, dokter menemukan tumor berukuran sekitar 11 milimeter yang tumbuh di area kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari merupakan organ kecil di dasar otak yang menghasilkan hormon untuk mengatur berbagai fungsi tubuh.
Tumor tersebut berada di area yang sangat sensitif karena kelenjar pituitari, pembuluh darah, dan saraf yang mengatur penglihatan berada berdekatan. Pertumbuhan tumor kemudian mulai menekan saraf optik sehingga penglihatan tepi Hibbert semakin menyempit. Kondisi tersebut juga disertai gangguan hormon dan penurunan kondisi fisik.
Sebelumnya, kondisi Hibbert ditangani tanpa operasi. Namun, gejalanya memburuk sejak diagnosis pada 2024, termasuk gangguan hormon dan masalah penglihatan. Jika tidak dilakukan operasi, tumor tersebut dapat terus mengancam penglihatannya dan berpotensi menyebabkan kebutaan.
Meski dibantu oleh AI, tim bedah tetap memegang kendali penuh dalam pelaksanaan operasi. Sistem AI menganalisis rekaman kamera secara langsung selama operasi berlangsung untuk membantu mengidentifikasi struktur penting, seperti saraf dan pembuluh darah, yang harus dihindari di sekitar tumor.
Para ahli bedah juga menggunakan teknologi AI untuk mengidentifikasi anatomi kecil di otak dengan memberikan kode warna pada struktur penting. Hal tersebut membantu ahli bedah mengenali bagian yang perlu dihindari selama prosedur.
Sebelumnya, teknologi AI tersebut telah digunakan sebagai alat penelitian dan pelatihan bagi ahli bedah. Namun, prosedur pada Hibbert menjadi penggunaan teknologi tersebut secara langsung pada pasien dalam operasi.
Dr. Sophia Bano, Associate Professor di bidang Robotika dan AI di UCL sekaligus pemimpin teknis sistem tersebut, mengatakan teknologi AI dikembangkan dengan mempelajari ratusan video operasi. Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengenali anatomi penting, instrumen bedah, dan interaksi jaringan secara real time, serta mendukung ahli bedah selama prosedur yang rumit.
Sementara itu, Profesor Mike Lewis, Direktur Ilmiah untuk Inovasi di National Institute for Health and Care Research (NIHR) yang mendanai penelitian tersebut, menyebut operasi ini menunjukkan potensi AI untuk mendukung ahli bedah dan meningkatkan perawatan pasien.
Nah, penggunaan AI dalam operasi tumor otak menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membantu dokter dalam menangani prosedur yang sangat kompleks. Meski demikian, dalam operasi tersebut AI tetap berperan sebagai teknologi pendukung, sementara keputusan dan kendali tindakan medis tetap berada di tangan tim ahli bedah.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Eunike Michelle Gultom)