Bedah Editorial MI: Memastikan Keselamatan Jurnalis

11 September 2026 09:30

WARTAWAN merupakan pekerjaan yang menuntut kehadiran di tengah peristiwa, melihat langsung apa yang terjadi, menggali fakta, dan menyampaikan informasi kepada publik. Tidak jarang, tuntutan profesi itu membawa para jurnalis ke tempat-tempat yang jauh dari kata aman.

Hilangnya kontak lima jurnalis yang tengah menaiki kapal untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat serius bagi dunia pers Indonesia. Mereka menjalankan tugas jurnalistik, tetapi ketika sebuah peristiwa yang diliput memiliki risiko tinggi, keselamatan harus ditempatkan sebagai pertimbangan utama.

Kita tentu berharap, kelima jurnalis itu bisa ditemukan dalam kondisi selamat. Kita sangat mengapresiasi para pihak yang sudah berjibaku menelusuri dan melakukan pencarian di segala titik potensi dilaluinya jalur kapal yang ditumpangi para jurnalis tersebut.

Apresiasi juga perlu kita sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto yang memginstruksikan jajaran pemerintahan mengerahkan segala daya dan upaya untuk menemukan kelima jurnalis dan dua awak speed boat itu. Perintah Presiden menunjukkan bahwa negara berikhtiar kuat untuk melindungi warganya dari marabahaya.

Keseriusan negara akan semakin terbukti bila dalam situasi bencana yang silih berganti seperti saat ini, muncul alokasi tambahan anggaran untuk kebencanaan dan lembaga yang menangani bencana. Akan sulit membayangkan para pelindung korban mesti terus-menerus berjibaku dengan anggaran yang minim.
 



Peristiwa hilangnya kontak para peliput bencana erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus juga pengingat kepada institusi media untuk memupuk kesadaran yang tinggi akan bahaya yang timbul akibat bencana. Dalam erupsi Gunung Anak Krakatau, ada ancaman material vulkanik, gelombang laut, perubahan cuaca, jarak pandang yang buruk, hingga kemungkinan kondisi alam berubah secara tiba-tiba. Alarm itu mesti tetap dijaga, dengan batas yang juga terus-menerus diingatkan. 

Institusi media memiliki tanggung jawab besar untuk tidak semata menyuntikkan semangat mengejar eksklusivitas dan gambar dramatis, tapi juga memastikan aspek keselamatan jurnalis berada di urutan depan. Karena itu, setiap media perlu memiliki standar operasional keselamatan liputan, terutama untuk peristiwa berisiko tinggi. 

Jurnalis yang ditugaskan ke daerah bencana atau lokasi berbahaya perlu dibekali pelatihan, perlengkapan keselamatan, perangkat komunikasi, asuransi, serta mekanisme pemantauan selama menjalankan tugas.

Selain itu, tidak semua gambar harus diperoleh dari jarak terdekat. Tidak semua informasi harus didapat dengan mempertaruhkan keselamatan. Teknologi hari ini menyediakan banyak pilihan untuk memperoleh data, gambar, dan informasi tanpa harus mendekat ke zona bahaya.

Peristiwa ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar keselamatan kerja jurnalistik di Indonesia. Keselamatan bukan aksesori dalam pekerjaan jurnalistik. Ia bagian tidak terpisahkan dari profesionalisme seorang jurnalis. 

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X