GAPKI Minta Pemerintah Matangkan B50 Ketimbang Buru-buru ke B60

9 September 2026 19:50

Jakarta: Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Edy Martono, meminta pemerintah untuk lebih bijak memantapkan penerapan biodiesel B50 terlebih dahulu pada 2027, ketimbang terburu-buru melompat ke B60. Sebab, perlu banyak uji coba untuk mematangkan B60 sebelum diterapkan pada tahun depan.

"Tetapi kalau akan menerapkan B60, tetap kita harus melakukan uji dulu, tes dulu, jadi tidak bisa langsung diterapkan. Ini mesti dites dulu, diuji dulu, dan itu butuh waktu juga. Jadi ya rasanya tidak mungkin kalau akan diterapkan di Januari 2027, rasanya tidak mungkin karena harus uji dulu begitu," kata Edy Martono dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu 9 September 2026. 

Terkait penerapan B50 yang tengah berjalan di tahun 2026, Ketua GAPKI Edy Martono menjelaskan bahwa pelaksanaannya sejauh ini terbilang lancar karena berada dalam masa transisi

"Kalau untuk B50 tahun ini itu praktis tidak ada masalah. Kenapa demikian? Karena memang ini juga ada masa transisi dua bulan dari Juli, kemudian Agustus, September ini kan masih masa transisi. Jadi memang tidak ada masalah seperti itu karena bahan baku juga mencukupi, untuk raw material dukungan dari CPO juga mencukupi," ujar Edy. 

Kendati demikian, Edy menyoroti kapasitas produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang belum sepenuhnya maksimal dan diperkirakan baru akan terasa dampaknya pada tahun mendatang.

"Kalau itu full capacity memang betul karena untuk produksi FAME kan tidak bisa semua, artinya kapasitas itu kan tidak bisa semua terpakai. Bisa jadi kan maksimum paling sekitar 75 sampai 80 persen. Nah itu yang nanti justru akan kelihatan di tahun 2027," ungkapnya. 

Edy Martono menegaskan bahwa tanpa bicara B60 sekalipun, pasokan bahan baku CPO untuk B50 pada 2027 sudah berpotensi mengalami kekurangan akibat dampak El Nino yang menyulitkan proses pemupukan. 

Meskipun penurunan produksi tidak sedrastis perkiraan awal sebesar lima juta ton. Hal ini berkat hujan di beberapa wilayah, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Kalimantan Utara, produksi CPO tetap terancam merosot tajam. 

"Ternyata kita mendapatkan laporan di beberapa daerah masih hujan, sehingga turunnya sekitar tiga juta ton. Nah bagaimana dengan turun tiga juta ton itu, kalau dari 32 juta ton pada 2025 ini bisa turun dari 32 juta ton menjadi sekitar 27 juta ton. Itu saja dengan B50," terang Edy. 

Penurunan produksi ini otomatis akan menggerus volume ekspor CPO nasional hingga menyisakan sekitar 23 juta ton, yang berdampak langsung pada berkurangnya penerimaan dana pungutan ekspor sebagai sumber insentif biodiesel. 

"Insentif biodiesel atau subsidi biodiesel itu menggunakan dana pungutan ekspor (levy). Nah kalau ekspor itu berkurang, otomatis dana pungutan ekspor akan berkurang juga. Nah kemudian bagaimana dengan B60? Nah ini makin turun lagi karena produksi kita yang seperti ini," tambah Edy. 

Dari sisi keandalan mesin kendaraan, GAPKI mencatat performa penggunaan B50 sejauh ini menunjukkan hasil yang positif. 

"Sampai saat ini saya mendapatkan laporan justru malah bagus dengan B50 tadi, jadi artinya malah tidak ada masalah dengan B50 seperti itu," kata Edy. 

Namun untuk B60, Edy menilai penerbitan kebijakan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru tanpa melalui uji coba mesin yang mendalam, terlebih jika terdapat campuran Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). 

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X