Ilustrasi uang yang rusak dimakan rayap - - Foto: dok Pribadi
Uang Tak Layak Edar Disulap Jadi Listrik, Pupuk, hingga Medali
Eko Nordiansyah • 12 October 2026 15:12
Jakarta: Uang Rupiah yang tidak layak edar ternyata masih dapat memberikan manfaat setelah ditarik dari peredaran. Bank Indonesia (BI) mengembangkan pemanfaatan limbah uang kertas menjadi energi alternatif hingga produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melansir laman resmi BI, uang yang dinyatakan tidak layak edar akan diproses melalui pemusnahan dan menjadi Limbah Racik Uang Kertas (LRUK). Limbah tersebut kemudian dapat dimanfaatkan kembali melalui program waste to energy dan waste to product.
Pemanfaatan ini menjadi bagian dari upaya BI menghubungkan pengelolaan Rupiah dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Limbah uang kertas diolah menjadi listrik dan pupuk
BI bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk memanfaatkan LRUK sebagai bahan bakar alternatif melalui teknologi cofiring. Teknologi ini dilakukan dengan mencampurkan bahan bakar alternatif dengan bahan bakar yang digunakan pada pembangkit listrik, sehingga sebagian penggunaan batu bara dapat digantikan.Selain menjadi sumber energi alternatif, limbah uang kertas juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bersama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah, LRUK dimanfaatkan menjadi produk seperti booster tanah atau pupuk untuk mendukung produktivitas lahan.
Inovasi lainnya dilakukan oleh Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali. Limbah uang kertas dimanfaatkan menjadi 1.130 medali untuk ajang QRIS Summer Run Bali 2025.
Menurut BI, program waste to energy dan waste to product juga telah dijalankan oleh 33 kantor perwakilan BI di daerah lain. Cakupan pemanfaatan LRUK secara nasional mencapai 72 persen.
Inovasi pengelolaan limbah uang tersebut memperoleh penghargaan internasional IACA Award 2026 untuk kategori Best New Environmental Project.

(Ilustrasi. Foto: Dok BI)
Pentingnya menjaga kondisi uang rupiah
BI menjelaskan, pengelolaan Rupiah membutuhkan energi, bahan baku, dan transportasi, mulai dari proses pencetakan hingga peredarannya ke berbagai wilayah Indonesia.Karena itu, uang yang cepat rusak dan harus ditarik dari peredaran dapat meningkatkan kebutuhan sumber daya untuk mencetak uang pengganti. Masyarakat pun diimbau menjaga kondisi fisik uang agar masa edarnya lebih panjang.
BI mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip 5J dalam merawat uang Rupiah, yakni Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distaples, dan Jangan dibasahi.
Merawat uang Rupiah tidak hanya membantu menjaga kualitas fisiknya, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan energi dan bahan baku.
Pengelolaan limbah dimulai dari kebiasaan sederhana
Upaya menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan melalui pemanfaatan limbah uang kertas. BI juga menyoroti berbagai kebiasaan yang dapat diterapkan masyarakat, seperti mengelola sampah organik melalui lubang resapan biopori, membudidayakan maggot, dan menyebarkan kebiasaan baik melalui media sosial.Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sumber daya secara bijak dapat dimulai dari aktivitas sehari-hari.
Dengan merawat uang Rupiah selama masih beredar dan memanfaatkan limbahnya setelah tidak layak edar, sumber daya yang sebelumnya berakhir sebagai limbah dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. (Natasya Dwi Putri)