Peneliti IPB Kembangkan Inovasi Rendang Domba Bisa Tahan Tiga Tahun

Kemasan rendang domba premium hasil pengembangan tim peneliti IPB University. (ANTARA.HO.Humas IPB)

Peneliti IPB Kembangkan Inovasi Rendang Domba Bisa Tahan Tiga Tahun

Whisnu Mardiansyah • 30 October 2026 10:06

Bogor: Tim Fakultas Peternakan IPB University mengembangkan produk rendang daging domba premium yang dapat disimpan hingga tiga tahun. Inovasi tersebut memadukan teknologi SheepLight dalam seleksi ternak dengan proses pengalengan dan sterilisasi untuk menghasilkan produk pangan berkualitas dengan masa simpan panjang.

Peneliti IPB University sekaligus inovator rendang domba premium, Prof Asep Gunawan, mengatakan pengembangan produk tersebut bermula dari penelitian bersama tim Fakultas Peternakan IPB pada 2016. Penelitian itu kemudian terus disempurnakan hingga menghasilkan inovasi pangan berbasis daging domba.

Pengembangan produk ini dilatarbelakangi sejumlah tantangan dalam konsumsi daging domba. Bahan pangan tersebut selama ini kerap diidentikkan dengan aroma yang kuat, tekstur daging yang alot, serta kandungan lemak dan kolesterol yang menjadi perhatian konsumen.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menggunakan teknologi SheepLight berbasis loop-mediated isothermal amplification (LAMP) untuk mendeteksi penanda genetik dalam seleksi domba premium," kata Asep seperti dilansir Antara, Kamis, 30 Oktober 2026.

Teknologi tersebut digunakan dalam proses seleksi ternak untuk mendapatkan domba dengan karakteristik daging yang lebih empuk, aroma khas yang lebih rendah, serta profil asam lemak yang lebih baik.
 


Pemilihan rendang sebagai produk olahan juga mempertimbangkan popularitas makanan khas Indonesia tersebut di pasar internasional. Dengan identitas kuliner yang telah dikenal luas, rendang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk peternakan bernilai tambah.

Pengembangan domba premium ini melibatkan kelompok peternak dan sejumlah pemangku kepentingan di tujuh provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Jambi, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

Kerja sama tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari pembibitan, seleksi ternak, pendampingan budi daya, hingga peningkatan manajemen pemeliharaan. Keterlibatan peternak menjadi bagian dari upaya mengembangkan rantai produksi daging domba premium.

Selain kualitas bahan baku, proses pengolahan menjadi aspek penting untuk menghasilkan produk dengan masa simpan panjang. Asep menjelaskan, rendang domba tersebut diproses melalui pengalengan yang dilanjutkan dengan sterilisasi termal.


Memasak rendang. (MI/Yose Hendra)


Tahapan produksi dimulai dari pemilihan bahan baku, persiapan daging, pengolahan bersama bumbu rendang, hingga pengisian dan penutupan kaleng secara hermetis. Selanjutnya, produk menjalani proses sterilisasi menggunakan mesin retort dengan pengaturan suhu dan durasi tertentu.

Melalui proses tersebut, rendang domba premium dapat disimpan pada suhu ruang tanpa memerlukan fasilitas pendingin. Karakteristik ini membuka peluang distribusi produk ke berbagai wilayah yang memiliki keterbatasan sarana penyimpanan dingin.

“Melalui rendang domba premium, kami ingin menunjukkan bahwa hasil penelitian pemuliaan ternak dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” ungkap Prof Asep.

Dari sisi pemasaran, pengembangan produk diarahkan untuk menjangkau komunitas diaspora Indonesia dan konsumen kuliner Asia. Sejumlah kawasan yang menjadi sasaran penjajakan pasar antara lain Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran rendang domba premium sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk peternakan dalam negeri.

Asep menilai keberhasilan inovasi penelitian tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademis dan teknologi yang dihasilkan. Manfaat langsung bagi masyarakat juga menjadi salah satu tolok ukur penting dalam pengembangan hasil penelitian.

“Bagi kami, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.

Melalui hasil penelitian ini kami dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” ujarnya.

(Whisnu M)