Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri. Istimewa
Otorita IKN Selidiki Dugaan Pembakaran Lahan di Tahura Bukit Soeharto
Media Indonesia • 31 October 2026 18:23
Nusantara: Pemulihan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto setelah kebakaran tidak hanya dilakukan melalui penanaman kembali. Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menelusuri dugaan pembakaran hutan yang dilakukan untuk membuka lahan.
Kebakaran yang melanda kawasan tersebut dan sekitarnya diperkirakan menghanguskan sekitar 1.600 hektare lahan. Dari jumlah itu, sekitar 900 hingga 1.000 hektare berada di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto, sekitar 500 hektare merupakan areal konsesi, sedangkan sisanya tersebar di lahan milik masyarakat.
Sebagai bagian dari rehabilitasi, sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam di Kilometer 47, Bukit Merdeka, Jalan Poros Samarinda-Balikpapan, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Bibit yang ditanam terdiri atas sejumlah jenis pohon, di antaranya balangeran, bangkirai, tengkawang, kapur, gaharu, nyamplung, meranti, dan durian. Penanaman tersebut ditujukan untuk memulihkan tutupan vegetasi sekaligus mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan yang terdampak kebakaran.
Kegiatan ini melibatkan Otorita IKN, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Kejaksaan RI, TNI, Polri, BIN, pemerintah daerah, komunitas Borneo Kind, serta Satuan Reaksi Cepat MUKTI. Sejumlah pihak tersebut selama ini turut berperan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah IKN.
Di tengah kegiatan rehabilitasi, Otorita IKN turut menelusuri dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja untuk membuka lahan. Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan dugaan itu menguat setelah ditemukan sejumlah indikasi di beberapa lokasi kebakaran.
Salah satu indikasi yang ditemukan berupa tanaman pertanian di area terdampak. Pola kebakaran di sejumlah titik juga menjadi perhatian karena dinilai berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan.
"Kami sangat kuat dugaannya dibakar, karena polanya kebakaran di beberapa titik ada ditemukan bibit sawit," ungkap Myrna, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Meski demikian, pihak yang diduga melakukan pembakaran belum teridentifikasi di seluruh lokasi. Pada beberapa titik, pihak yang diduga terlibat masih belum ditemukan. Sementara itu, di lokasi lain, pihak yang diduga bertanggung jawab telah ditemukan dan dilaporkan kepada kepolisian.
Otorita IKN telah menyampaikan laporan tersebut kepada Polres Kutai Kartanegara dan Polda Kalimantan Timur untuk ditindaklanjuti.
Penelusuran juga menyasar sejumlah korporasi yang diduga memiliki keterkaitan dengan kebakaran. Salah satunya merupakan perusahaan di sektor perkebunan yang seluruh arealnya berada dalam wilayah kewenangan Otorita IKN. Perusahaan tersebut telah dikenai sanksi administratif.
Adapun korporasi lainnya memiliki lokasi kegiatan yang mencakup wilayah IKN dan Kalimantan Timur. Karena cakupan kegiatannya melintasi wilayah di luar kewenangan Otorita IKN, penanganan kasus tersebut dikoordinasikan dengan pemerintah pusat.

Tim gabungan lakukan pendinginan usai kebakaran di Tahura Bukit Soeharto (Dok. Humas Polda Kaltim)
"Kami sudah laporkan ke Kementerian Lingkungan Hidup. Kemudian KLH sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan bersama. Sekarang prosesnya di Kementerian LH," jelas Myrna.
Myrna menuturkan, salah satu dugaan pemicu kebakaran berkaitan dengan praktik pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran. Cara tersebut dapat memicu kebakaran yang lebih luas ketika api tidak terkendali dan merambat ke kawasan hutan di sekitarnya.
Dugaan tersebut menjadi perhatian karena Tahura Bukit Soeharto memiliki fungsi konservasi sekaligus berperan sebagai kawasan penyangga lingkungan di sekitar IKN. Kebakaran yang merusak kawasan ini tidak hanya mengurangi tutupan vegetasi, tetapi juga berpotensi mengganggu habitat satwa dan keseimbangan ekosistem.
Sementara itu, Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan menanam pohon sebagai kebiasaan masyarakat. Menurut dia, penghijauan tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Otorita IKN, kata Basuki, secara berkala menggelar penanaman pohon setiap dua pekan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pembangunan IKN dengan konsep forest city atau kota hutan.
"Kami di Otorita menanam pohon adalah lifestyle, bukan seremonial. Kami dua minggu sekali nanam pohon di IKN karena pilar kita adalah forest city," kata Basuki.
Basuki juga mengapresiasi partisipasi komunitas Borneo Kind dan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan penghijauan. Ia menilai keterlibatan masyarakat diperlukan karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kawasan hutan yang luas.
"Power dari masyarakat seperti ini sangat diharapkan. Kami sendiri tidak akan sanggup, perhutanan sendiri tidak akan efektif. Makanya kerja sama ini harus terus dilakukan. Saya ingin menanam pohon ini harus jadi lifestyle Kalimantan Timur," tegasnya.
Keterlibatan pemerintah, aparat, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pemulihan kawasan hutan. Selain penanaman bibit, rehabilitasi juga membutuhkan perawatan tanaman, pemantauan pertumbuhan, serta upaya perlindungan agar kebakaran serupa tidak kembali terjadi.
Penanaman 1.000 bibit pohon di Tahura Bukit Soeharto menjadi salah satu langkah pemulihan kawasan yang terdampak. Namun, upaya tersebut juga perlu diikuti penanganan terhadap dugaan pembakaran lahan agar kerusakan hutan tidak terus berulang. (Yovan Daizabella)