Project Manager Promise II Impact ILO Djauhari Sitorus. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.
ILO Soroti Risiko Utang Pinjol di Tengah Akses Keuangan Digital
Andika Fauzan Azhari • 15 October 2026 14:46
Jakarta: Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyoroti kemajuan pesat tingkat inklusi dan literasi keuangan di Indonesia yang belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital, seperti pinjaman online, berisiko memicu masalah baru jika tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bijak.
Project Manager Promise II Impact ILO Djauhari Sitorus menyampaikan akses layanan keuangan digital tanpa diiringi kemampuan mengelola finansial justru berpotensi membebani masyarakat pekerja maupun pelaku usaha kecil.
"Walaupun seorang sudah memiliki rekening, walaupun seorang itu sudah menggunakan layanan keuangan, mengakses, tapi belum tentu dia lebih sejahtera. Bahkan ada beberapa situasi, mereka yang memiliki akses, misalnya ke pinjaman secara online, itu malah akhirnya terjerat utang yang tidak bisa dibayar," ujar Djauhari dalam acara Financial Pathways Forum di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Djauhari menjelaskan kemudahan mendapatkan pinjaman tanpa kesiapan daya tahan finansial dapat memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga. Hal ini menjadikan tingkat kerentanan pekerja semakin tinggi ketika dihadapkan pada situasi darurat atau guncangan ekonomi.
(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
Dorong pergeseran indikator keberhasilan
Menurut Djauhari, indikator keberhasilan sektor keuangan di Indonesia perlu bertransisi dari sekadar capaian angka kepemilikan rekening atau tingkat akses pasar. Pemerintah dan pemangku kepentingan didorong untuk berfokus pada hasil nyata (outcome) berupa ketahanan dan kesehatan finansial pekerja secara jangka panjang.
"Sudah waktunya kita bertransisi dari sekadar menghitung berapa orang yang punya rekening, berapa orang yang bisa akses, kepada sesuatu yang baru yang sifatnya nanti hasil. Apakah dia bisa mengelola keuangan hari demi hari, apakah dia punya daya tahan keuangan kalau misalnya dia sakit atau bisnisnya bangkrut," tambah Djauhari.
Ia menambahkan, pengelolaan keuangan harian yang baik, ketersediaan dana darurat, asuransi, serta perencanaan tujuan keuangan jangka panjang menjadi faktor penting agar masyarakat memiliki rasa aman dan percaya diri secara finansial.