Ilustrasi streamer virtual. Foto: Istimewa.
Model Pemasaran Era Digital Bertransformasi, Streamer Virtual Kini Jadi Jurus Utama
Husen Miftahudin • 16 February 2026 08:19
Jakarta: Industri konten digital Indonesia mulai memasuki fase baru yang menitikberatkan pada efisiensi operasional dan mitigasi risiko reputasi. Fenomena terbaru menunjukkan pergeseran strategi merek dari penggunaan talenta manusia (key opinion leaders) menuju adopsi streamer virtual sebagai infrastruktur komunikasi permanen.
Langkah ini diambil menyusul semakin pendeknya siklus perhatian audiens di platform video pendek dan media sosial. Dalam ekosistem yang menuntut pembaruan konten setiap jam, ketergantungan pada jadwal dan stabilitas emosi manusia mulai dipandang sebagai titik lemah dalam rantai pasok pemasaran digital.
Masalah utama dalam pertumbuhan merek saat ini bukanlah kurangnya kreativitas, melainkan inkonsistensi. Banyak perusahaan mengalami lonjakan eksposur saat kampanye besar, namun suara mereka tenggelam segera setelah kontrak artis berakhir atau jadwal produksi terhenti.
"Gangguan komunikasi ini lebih berbahaya daripada kegagalan kampanye, karena memutus rantai ingatan pengguna. Industri kini beralih ke solusi yang menawarkan jangka panjang, standarisasi, dan keberlanjutan," ungkap praktisi operasional konten Danko, saat membedah dinamika pasar konten baru-baru ini, diktuip dari keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.
| Baca juga: Lewat Digitalisasi Standar Gaji untuk ART Lebih Adil dan Transparan |
Tiga alasan pergeseran
Berbeda dengan persepsi awal dimana streamer virtual adalah tren teknologi estetika, para pelaku industri kini melihatnya sebagai instrumen manajemen risiko. Ada tiga alasan utama di balik pergeseran ini:
- Kendali Penuh Narasi: Menghindari fluktuasi opini publik yang sering menimpa artis manusia akibat skandal pribadi atau perubahan sikap politik.
- Skalabilitas Global: Kemampuan adaptasi lintas bahasa secara instan untuk pasar ekspor.
- Efisiensi Frekuensi: Menangani tugas repetitif seperti sesi FAQ, penjelasan produk, dan siaran langsung 24 jam tanpa risiko kelelahan fisik.
Namun, transisi ke model virtual ini bukan tanpa tantangan finansial. Laporan industri menunjukkan streamer virtual bukanlah solusi murah. Dibutuhkan investasi besar pada awal untuk pengembangan aset visual, pencahayaan digital, hingga sistem skrip yang terstruktur.
Operasional ini lebih menyerupai manajemen proyek manufaktur daripada sekadar produksi video kreatif. Perusahaan harus melakukan pembaruan versi secara berkala dan pemeliharaan 'dunia karakter' agar narasi merek tetap relevan di mata konsumen.

(Ilustrasi. Foto: Slice.id)
Adopsi model hibrida
Meski teknologi virtual terus berkembang, para ahli meyakini peran manusia tidak akan sepenuhnya hilang. Ke depan, pasar akan mengadopsi model hibrida:
- Talenta Manusia: Digunakan untuk konten yang membutuhkan kedalaman emosional, pengalaman nyata, dan "ketegangan" kreatif yang spontan.
- Streamer Virtual: Menjadi "wajah kedua" merek yang bertugas menjaga stabilitas suara perusahaan dan cakupan konten dengan frekuensi tinggi.
"Pergeseran ini membuktikan di tengah persaingan platform yang semakin agresif, kemenangan merek tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling viral, melainkan siapa yang memiliki daya tahan paling lama untuk tetap hadir secara daring," papar Danko.