Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Foto: ANTARA/Desi Purnama Sari.
Jangan Menyapu Abu Vulkanik dalam Kondisi Kering, Ini Bahayanya
Nattasya Amani Vrazeti • 6 September 2026 15:40
Jakarta: Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta membagikan sejumlah panduan bagi warga dalam membersihkan endapan abu vulkanik di area rumah. Kondisi ini imbas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi mencapai wilayah Jakarta pada Minggu, 6 September 2026.
“Dinkes mengimbau masyarakat tidak menyapu abu dalam kondisi kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup,” tulis Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati dalam keterangan resminya, Minggu, 6 September 2026.
Baca Juga :
Penerbangan Terimbas Erupsi Anak Krakatau, Calon Penumpang Pilih Menunggu di Bandara Soetta
Ani menjelaskan, menyapu abu secara kering dapat membuat partikel halus berunsur silika dan kaca vulkanik melayang di udara. Sebagai gantinya, warga disarankan memercikkan air secukupnya terlebih dahulu agar abu menjadi lebih berat saat dibersihkan, tanpa menyiramnya secara berlebihan guna mencegah penyumbatan pada saluran drainase.
Selama proses pembersihan berlangsung, masyarakat juga diimbau wajib menggunakan alat pelindung diri sederhana secara lengkap.
“Sebelum membersihkan abu, gunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup. Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit,” kata Ani.
Setelah selesai membersihkan lingkungan yang terpapar, warga disarankan melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk rumah, segera mandi, keramas, serta mengganti dan mencuci pakaian yang terkena abu secara terpisah. Warga juga diimbau membilas mata dan hidung dengan air bersih serta mengonsumsi air putih yang cukup.
Untuk meminimalkan dampak buruk kesehatan, Dinkes DKI meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah serta menutup rapat pintu dan jendela.
“Jika harus bepergian, gunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus. Gunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu,” ucap Ani.
.jpg)
Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Foto: ANTARA.
Langkah antisipasi ini tergolong krusial mengingat kandungan silika dan kaca vulkanik pada abu bersifat abrasif yang berpotensi memicu gangguan serius pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit.
“Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Paparan juga dapat menimbulkan iritasi pada mata berupa perih, mata merah, dan rasa mengganjal. Pada kulit, abu dapat menyebabkan gatal dan iritasi,” tegas Ani.
Ani juga meminta kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan kronis untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra. Warga yang mengalami gejala berat seperti sesak napas, batuk parah, atau gangguan penglihatan diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.