Harga Minyak Sawit Tembus USD1.000 per Ton pada September 2026

Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Harga Minyak Sawit Tembus USD1.000 per Ton pada September 2026

Eko Nordiansyah • 2 September 2026 18:55

Jakarta: Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan Tarif Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP) periode 1-30 September 2026 ditetapkan sebesar USD1.007,51 per metrik ton (MT). Nilai tersebut mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD996,52 per MT.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana menyebut penetapan HR CPO diperoleh dari rata-rata harga selama periode 20 Juli-10 Agustus 2026. Harga tersebut berasal dari tiga sumber, yakni Bursa CPO Indonesia sebesar USD904,75 per MT, Bursa CPO Malaysia sebesar USD1.110,27 per MT, dan harga Port CPO Rotterdam sebesar USD1.538,92 per MT.

Sementara itu, minyak goreng Refined, Bleached, and Deodorized (RBD) palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat bersih maksimal 25 kilogram dikenakan BK sebesar USD33 per MT. Ketentuan tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 1778 Tahun 2026 tentang Daftar Merek Refined, Bleached, and Deodorized dalam Kemasan Bermerek dan Dikemas dengan Berat Netto <25 Kg.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Harga referensi biji kakao dan produk kehutanan naik

HR biji kakao periode September 2026 juga mengalami kenaikan menjadi USD5.635,76 per MT, naik USD210,79 atau 3,89 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut turut memengaruhi Harga Patokan Ekspor (HPE) kakao di periode yang sama, yakni menjadi USD5.721 per MT dengan kenaikan 4,07 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Tommy menyebut penetapan HPE dan HR mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, dan dinamika perdagangan dunia. Pada September 2026, BK dan HPE biji kakao ditetapkan sebesar 7,5 persen.

“HPE dan HR dihitung dengan memperhatikan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Kenaikan HR dan HPE biji kakao periode September 2026 terjadi karena adanya penurunan produksi sebagai akibat dari serangan hama, cuaca yang buruk sebagai dampak El Nino di kawasan produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat,” ucapnya dilansir dari siaran pers Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Kenaikan juga terjadi pada HPE kayu veneer dari hutan alam dan kayu olahan dengan luas 1.000-4.000 mm² dari jenis meranti, rimba campuran, sortimen lainnya jenis jati, hutan tanaman jenis pinus, gmelina, akasia, sengon, balsa, dan eukaliptus.

Penetapan HR CPO, HR dan HPE biji kakao, HPE produk kulit, HPE produk kayu, serta HPE getah pinus tercantum dalam Kepmendag Nomor 1777 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Badan Layanan Umum. (Tiaranissa Juliansyah)

(Eko Nordiansyah)