Presiden Belarus Alexander Lukashenko lakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto. Foto: Antara.
Indonesia dan Belarus Perkuat Kerja Sama Pertanian Modern hingga Manufaktur
Husen Miftahudin • 2 July 2026 16:33
Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Belarus sepakat memperkuat kerja sama di sejumlah sektor strategis, mulai dari pertanian modern, perdagangan, manufaktur, hingga ketahanan pangan.
Kesepakatan itu ditegaskan dalam pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Dalam pernyataan bersama, Prabowo mengungkapkan kedua negara telah meluncurkan Peta Jalan Penguatan Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030. Dokumen tersebut menjadi kerangka pengembangan hubungan bilateral selama lima tahun ke depan.
Prabowo menegaskan, penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama.
"Di bidang ketahanan pangan, kita bertekad untuk terus meningkatkan kerja sama. Indonesia dan Belarus memiliki potensi yang saling melengkapi untuk memperkuat kerja sama di bidang pertanian modern, pupuk, alat dan teknologi pertanian, serta alat berat," ucap Prabowo seperti dikutip dari Antara, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat memperkuat kapasitas produksi pangan nasional sekaligus mendukung modernisasi sektor pertanian.
| Baca juga: Presiden Belarus Jadi Kepala Negara Pertama Menginap di Istana Negara saat Kunjungan |

(Presiden Belarus Alexander Lukashenko lakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto. Foto: BPMI Setpres)
Perluas kemitraan industri dan manufaktur
Di sektor ekonomi, Indonesia dan Belarus juga sepakat memperluas kemitraan untuk mendukung agenda pembangunan nasional masing-masing negara. Kerja sama ke depan difokuskan pada pengembangan industri, modernisasi pertanian, penguatan rantai pasok, serta pengembangan teknologi.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas ratifikasi perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (EAEU) oleh Belarus. Saat ini, Indonesia tengah menjalani proses ratifikasi.
"Di bidang industri, kami melihat peluang besar untuk meningkatkan investasi dan joint venture antara pelaku usaha kedua negara, khususnya pada industri manufaktur, otomotif, kendaraan berat, dan agroindustri," tutur Prabowo.
Selain sektor ekonomi, kedua negara juga mempererat hubungan di bidang sosial budaya serta pembangunan sumber daya manusia. Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran budaya dan penguatan kemitraan antar-institusi pendidikan serta pelatihan vokasi.
Penguatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman di berbagai bidang, meliputi kesehatan, budaya, akreditasi nasional, pelaporan transaksi keuangan, industri, sains dan teknologi, hingga jasa keuangan.