Komnas Haji Ingatkan Garansi Keamanan dan Keselamatan Jemaah Umrah

Suasana haji. Foto: Dok. Kementerian Agama.

Komnas Haji Ingatkan Garansi Keamanan dan Keselamatan Jemaah Umrah

Ficky Ramadhan • 2 March 2026 16:20

Jakarta: Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kian mencekam, menyusul serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Hingga kini belum dapat dipastikan kapan kondisi tersebut akan mereda dan kembali normal.

Akibat situasi tersebut, ribuan jemaah umrah asal Indonesia terancam tidak dapat kembali ke Tanah Air sesuai jadwal. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), tercatat 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, mendorong pemerintah segera mengambil kebijakan dan langkah terukur guna menjamin keamanan serta keselamatan jemaah.

"Dalam kondisi perang yang masih serba tidak menentu tersebut, pemerintah harus mengambil kebijakan dan langkah-langkah terukur terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada jemaah dari akibat dampak perang yang masih terus berkecamuk dan tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir," kata Mustolih, Senin, 2 Maret 2026.
 


Ia menegaskan, khususnya bagi Kementerian Haji dan Umrah sebagai leading sector dalam penyelenggaraan ibadah umrah, diperlukan langkah inisiatif dan proaktif dengan memperkuat koordinasi lintas sektor. Tindakan dapat dilakukan bekerja sama serta berkomunikasi intens dengan jajaran Kementerian Luar Negeri, maskapai, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), organisasi asosiasi haji dan umrah, dan otoritas Arab Saudi.

Mustolih juga menekankan pentingnya penyusunan mitigasi dan langkah darurat (contingency plan) apabila situasi semakin memburuk dan jalur penerbangan udara belum juga dibuka. "Jika kondisi Timur Tengah kian memburuk, perang terus berkecamuk dan jalur penerbangan udara tidak juga dibuka, Kemenhaj perlu menyiapkan mitigasi dan langkah darurat (contingency plan) dengan menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center bahkan jika diperlukan menyediakan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jemaah ke Tanah Air," ungkap Mustolih.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut sangat penting mengingat kemampuan finansial dan kesiapan logistik jemaah berbeda-beda. Tidak sedikit jemaah yang berangkat dengan dana terbatas sesuai rencana perjalanan awal.

"Begitu juga dengan kemampuan PPIU, belum lagi di antara ribuan jemaah umrah tersebut juga ada yang melakukan umrah mandiri tanpa melalui biro jasa travel," jelas Mustolih.

Kondisi lalu lintas di salah satu ruas jalan di Iran. Foto: Anadolu Agency.

Komnas Haji juga mengimbau jemaah yang saat ini masih berada di Arab Saudi untuk tetap mengikuti seluruh arahan dan informasi resmi dari pemerintah. Sementara bagi calon jemaah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat, disarankan untuk menunda keberangkatan hingga situasi benar-benar kondusif.

Umrah pada bulan Ramadan memang memiliki daya tarik tersendiri bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain diyakini memiliki pahala berlipat ganda, banyak jemaah memilih menghabiskan bulan suci di Tanah Suci. Pada Ramadan tahun ini diperkirakan sekitar 5 juta jemaah umrah dari berbagai negara memadati Arab Saudi.

Namun, situasi perang saat ini berpotensi menimbulkan kerugian luas, bukan hanya bagi jemaah, biro perjalanan, maskapai, dan penyedia layanan transportasi serta akomodasi, tetapi juga bagi negara tuan rumah, Arab Saudi, maupun negara pengirim jemaah. Hingga kini belum ada estimasi resmi terkait besaran kerugian yang ditimbulkan.

Komnas Haji berharap konflik segera berakhir, sehingga keamanan kawasan kembali pulih dan aktivitas ibadah umrah dapat berjalan normal tanpa mengorbankan keselamatan jemaah. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Siti Yona Hukmana)