Ilustrasi Pexels
Psikolog Bagikan Cara Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual Sejak Dini
Muhamad Marup • 7 May 2026 20:28
Jakarta: Kekerasan seksual marak terjadi, termasuk menimpa anak-anak. Pencegahan penting tidak hanya melindungi tumbuh kembang anak, tapi menghindari trauma berkepanjangan yang berdampak pada masa depan anak.
Psikolog klinis anak dari Kancil, Dhisty Azlia Firnady, mengatakan, pencegahan kekerasan seksual paling utama melalui edukasi sejak dini. Menurutnya, semakin muda usia anak diberikan edukasi, semakin kecil risiko anak terlibat kekerasan seksual dan perilaku seksual menyimpang.
"Edukasi seksual harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Edukasi bisa diberikan melalui aktivitas sehari-hari seperti baca buku, main, dan diskusi," ujar Dhisty, kepada Metrotvnews.com, Kamis, 7 Mei 2026.
Topik edukasi
Dhisty mengungkapkan, edukasi pencegahan kekerasan seksual bisa membahas seputar:- Mengajarkan consent atau izin
- Pengenalan anggota tubuh dan area privat
- Mengajarkan konsep “tubuhku milikku”
- Mengenalkan sentuhan aman dan tidak aman
- Siapa saja dan batasan orang lain menyentuh tubuh
- Latihan berkata tidak
- Ajari melapor jika ada orang lain yang melewati batasan, termasuk kepada siapa saja melapor
- Mengajari mekanisme pertahanan diri dan kabur dari kekerasan seksual
- Pertemanan sehat dan batasan berteman, khususnya untuk remaja
Ilustrasi Pexels
Pengawasan semua pihak
Dhisty menerangkan, pengawasan yang ketat juga memegang peran penting. Meski demikian, pengawasan harus tetap memberi ruang bagi anak mengingat banyak pelaku justru berasal dari orang terdekat di sekitar anak."Pengawasan digital dan pembatasan media sosial juga wajib di lakukan di era teknologi ini, karena banyak terjadi kekerasan seksual melalui media sosial dan gim," ucapnya.
Selain keluarga, ia mengingatkan pentingnya peran sekolah dan masyarakat juga penting untuk terlibat dalam tindakan preventif. Hal yang bisa dilakukan antara lain:
- Edukasi rutin di sekolah.
- Sistem pelaporan dan pemantauan, misalnya cctv di area sekolah, whistle blow system jika terjadi kekerasan seksual di sekolah, dan sebagainya.
- Membangun lingkungan ramah anak yang responsif terhadap perlindungan anak.
- Pemberdayaan karang taruna untuk membangun relasi remaja yang sehat, sekaligus menciptakan iklim yang aman bagi anak-anak di sekitar rumah.