Ilustrasi Pexels
Kekerasan Seksual pada Anak Terjadi Lagi di Pati, Ini Dampak dan Penanganannya
Muhamad Marup • 7 May 2026 15:39
Jakarta: Kekerasan seksual marak terjadi, termasuk menimpa anak-anak. Terbaru, kasus pencabulan anak terjadi di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang diduga dilakukan pimpinan pesantren.
Kekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik, tapi juga psikis. Semua pihak harus menjamin perlindungan terhadap anak sebagai salah satu hak dasar yang wajib dipenuhi.
Psikolog klinis anak dari Kancil, Dhisty Azlia Firnady mengungkapkan dampak-dampak kekerasan seksual pada anak. Kepada Metrotvnews.com, ia juga membagikan proses penanganan dan keterlibatan orang tua serta masyrakat.
Dampak kekerasan seksual pada anak
Dhisty menjelaskan, dampak peristiwa kekerasan sekslua pada anak sangat luas dan beragam. Dampaknya bisa berlangsung baik dalam jangka pendek maupun panjang."Hal ini bisa terjadi atas berbagai faktor yaitu usia anak, pemahaman anak, kedekatan dengan pelaku, frekuensi, dukungan dari lingkungan, intervensi yang diberikan pascaperistiwa," ujar Dhisty, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menjelaskan, secara umum, beberapa dampak yang bisa muncul di antaranya:
- Masalah/keluhan fisik: Jantung berdebar, kesulitan tidur dan/atau makan, sakit pd anggota tubuh, lunglai, psikosomatis.
- Masalah perilaku: Bertindak agresif, melawan.
- Masalah emosi dan sosial: Kecemasan dan ketakutan berlebih, mimpi buruk, menarik diri, menyakiti diri sendiri, stres akut, rasa bersalah, gangguan relasi.
- Masalah akademis dan penurunan prestasi
"Sehingga peristiwa kekerasan seksual juga bisa berdampak pada perkembangan identitas diri dan relasi di masa dewasa," tuturnya.
Penanganan dan keterlibatan semua pihak
Ilustrasi. Foto: Dok. Medcom.id.
Dhisty menerangkan, jika kekerasan seksual sudah terjadi, tindakan harus berfokus pada pemulihan rasa aman anak. Menurutnya, langkah pertama adalah membangun kembali koneksi dengan anak sebelum melakukan koreksi.Orang tua, masyrakat, bahkan pemerintah harus terlibat dalam penanganan. Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan:
- Tidak menyalahkan anak dan lebih mendengar ceritanya tanpa menghakimi.
- Jaga respons dan emosi diri sendiri agar tetap tenang, terutama di hadapan anak. Bertindak dengan kepala dingin akan membantu anak menghadapi masalah dengan tenang pula.
- Terima perasaan anak seutuhnya serta jangan larang anak untuk merasa takut, marah, menangis, dan sebagainya. Memperbolehkan anak merasakan perasaan tidak menyenangkan adalah langkah awal pemulihan.
- Memahami perubahan yang muncul pada anak baik dari sisi perilaku maupun emosi adalah bagian dari respons traumanya. Jangan labeli anak, melainkan beri tahu apa yang harus dilakukan.
- Utamakan kesejahteraan psikologis anak dengan menjaga kerahasiaan, hindari terekspos media, dampingi saat proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP), saat menerima pertanyaan berulang dari lingkungan sosial, dan sebagainya.
- Pendampingan psikologis dari ahli mencakup asesmen kondisi psikologis anak untuk tahu intervensi apa yang dibutuhkan.