GIHES 2026 Hadirkan Masa Depan Pendidikan Holistik dari Pesantren

Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi. Foto: Dok. Istimewa.

GIHES 2026 Hadirkan Masa Depan Pendidikan Holistik dari Pesantren

Fachri Audhia Hafiez • 16 August 2026 14:46

Jakarta: Pondok Modern Darussalam Gontor meluncurkan forum internasional Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Kegiatan ini sebagai langkah strategis merespons krisis pendidikan modern serta menyambut peringatan 100 tahun berdirinya lembaga pendidikan tersebut.

“Pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan. Tantangan masa depan seperti kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati adalah kompetensi nonteknis yang berakar pada pendidikan karakter. GIHES hadir untuk merumuskan masa depan pendidikan yang holistik—menyeimbangkan intelektual, spiritual, dan moral,” ujar Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam keterangan pers, Minggu, 16 Agustus 2026.
 


Hamid menjelaskan, krisis pendidikan modern tefleksikan dari data WHO dan UNICEF pada 2024 yang menunjukkan satu dari tujuh remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental. Selain itu, proyeksi World Economic Forum mengindikasikan sebanyak 39% keterampilan inti saat ini akan usang pada 2030.

Simposium bertaraf internasional ini dijadwalkan berlangsung pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, mengusung tema "Exploring and Revealing the Pesantren Education System". Forum ini menghadirkan pakar dan akademisi dari lima benua, di antaranya Prof. Dr. Nuri Tinaz (Turki), Dr. Mahamood Shihab K.M. (India), Prof. Dato' Ts. Dr. Norazah Mohd. Nordin (Malaysia), hingga Prof. Dr. Ryoko Tsuneyoshi (Jepang).

Sejumlah tokoh nasional turut mendukung agenda tersebut, antara lain Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, serta akademisi Prof. Dr. Amin Abdullah.

“Seluruh pembicara ini membawa satu pesan seragam: kita membutuhkan sistem pendidikan yang menyentuh 'kepala, hati, dan tangan' secara bersamaan. Ini adalah konsensus global bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tapi harus membentuk manusia seutuhnya,” tambah Hamid.


Rektor UNIDA Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi. Foto: Dok. Istimewa.

Melalui perhelatan ini, Hamid berharap dunia internasional dapat mengadopsi model pendidikan pesantren sebagai School of Life yang mengintegrasikan ilmu, adab, serta spiritualitas secara komprehensif.

“Di pesantren, santri dididik melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat. Di saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep well-being dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad,” ucap Hamid.

Penyelenggaraan GIHES 2026 ditargetkan menghasilkan "Deklarasi GIHES" sebagai bentuk warisan intelektual sekaligus komitmen kolektif dalam memajukan pendidikan Islam di tingkat global.

(Fachri Audhia Hafiez)