Bayi Berisiko Terpapar Asap Karhutla, Penanganan Khusus Mesti Diperkuat

Ilustrasi kabut asap. Foto: Dok. Antara.

Bayi Berisiko Terpapar Asap Karhutla, Penanganan Khusus Mesti Diperkuat

Fachri Audhia Hafiez • 24 September 2026 06:13

Jakarta: Bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan menghadapi krisis kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Paparan kabut asap yang berlangsung berhari-hari berpotensi memperberat penyakit pneumonia, asma, hingga penyakit bawaan pada anak-anak.

"Bayi dan balita menghadapi risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih berkembang. Paparan yang berlangsung berhari-hari juga dapat memperberat pneumonia, asma, serta penyakit bawaan," kata anggota Komisi IX DPR, Irma Suryani Chaniago, melalui keterangan tertulis, Rabu, 23 September 2026.
 


Irma mendorong menetapkan wilayah terdampak Karhutla sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Pasalnya, tingkat paparan kabut asap telah meluas dan memicu puluhan ribu anak balita terinfeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Akibat karhutla ini, ISPA membayangi masyarakat terdampak dan pemerintah c/q Kemenkes harus segera menetapkan wilayah terdampak sebagai KLB karena jangkauan Karhutla semakin luas dan korban ISPA semakin banyak,” ucap Irma.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode Agustus hingga September 2026, tercatat 174.694 kasus ISPA akibat Karhutla di 63 kabupaten/kota pada 7 provinsi terdampak, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dari total kasus tersebut, sebanyak 40.363 pasien merupakan balita (usia 0-5 tahun). Tren kasus ini dilaporkan meningkat jika dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Irma menilai angka puluhan ribu balita terinfeksi ISPA mengindikasikan kabut asap Karhutla telah berkembang menjadi kedaruratan kesehatan anak. Kabut asap ini tidak hanya memicu ISPA dan iritasi mata, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jangka panjang seperti jantung dan stroke.

“Kandungan partikel pada kabut asap Karhutla sangat membahayakan kesehatan. Khususnya bagi balita dan warga dari kelompok rentan,” ungkap Irma.


Ilustrasi kabut asap. Foto: Dok. Antara.

Irma mendorong Kemenkes melakukan intervensi kesehatan khusus anak di wilayah dengan kualitas udara berbahaya. Ia meminta fasilitas kesehatan bergerak aktif mendata kelompok rentan.

“Puskesmas, posyandu, dan rumah sakit harus secara aktif mendata bayi, balita, ibu hamil, anak dengan asma, pneumonia, penyakit jantung, serta kelompok berisiko lain untuk memperoleh pemantauan berkala, pemeriksaan dini, dan rujukan tanpa menunggu kondisi gawat,” ucap Irma.

Irma juga menegaskan pentingnya pemetaan harian terhadap kesiapan logistik medis, seperti ketersediaan dokter, ruang perawatan, oksigen, nebulizer, obat-obatan, hingga ambulans agar daerah terdampak dapat disokong oleh daerah penyangga secara cepat.

(Fachri Audhia Hafiez)