Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit pada Anak

Ilustrasi - Nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD). ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit pada Anak

Achmad Zulfikar Fazli • 9 June 2026 19:34

Jakarta: Perubahan iklim yang ditandai peningkatan suhu bumi dan perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan risiko penyakit tropis, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan diare pada anak. Perubahan kondisi lingkungan membuat vektor atau organisme hidup pembawa penyakit, lebih mudah berkembang biak dan memperluas wilayah penyebarannya.

"Karena perubahan suhu ini, sekarang daerah-daerah yang dulu tidak kenal demam berdarah mulai muncul kasusnya," kata anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Riyadi dalam seminar media IDAI untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup, dilansir dari Antara, Selasa, 9 Juni 2026.

Dia menjelaskan nyamuk pembawa penyakit, seperti DBD dan malaria, sangat dipengaruhi suhu lingkungan. Kenaikan suhu memungkinkan nyamuk hidup dan berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin.

"Kalau curah hujan tinggi, biasanya risiko demam berdarah meningkat karena banyak genangan yang menjadi tempat nyamuk berkembang," ujar Riyadi.

Ilustrasi perubahan iklim. Dok. Freepik

 

Baca Juga: 

Anak-anak Dinilai Perlu Dibekali Pengetahuan soal Perubahan Iklim

Menurut Riyadi, perubahan iklim juga berdampak pada meningkatnya risiko diare, terutama ketika banjir dan gangguan sanitasi terjadi lebih sering akibat cuaca ekstrem. Akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang terganggu dapat mempermudah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, khususnya pada anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Dia menambahkan perubahan iklim memengaruhi keseimbangan antara lingkungan, manusia, dan agen penyebab penyakit. Hal ini memicu perubahan pola penyebaran penyakit infeksi.

"Patogennya jadi pindah, host-nya menjadi rentan karena terpapar, kemudian faktor pembawanya juga bisa tumbuh dan berkembang biak di tempat tersebut," kata Riyadi.

Riyadi menilai upaya pengendalian perubahan iklim perlu dilakukan bersamaan dengan penguatan sanitasi, akses air bersih, edukasi masyarakat, serta pencegahan penyakit berbasis lingkungan untuk melindungi kesehatan anak.

"Kalau iklim berubah, penyakit yang sensitif terhadap lingkungan juga akan berubah pola penyebarannya. Anak-anak menjadi kelompok yang paling perlu kita lindungi," ujar Riyadi.

(Achmad Zulfikar Fazli)